Senin depan, Presiden Prabowo Subianto akan meresmikan program Sekolah Rakyat. Ini adalah gebrakan pendidikan gratis yang menyasar anak-anak dari keluarga paling miskin. Tujuannya jelas: memutus rantai kemiskinan yang sudah berlangsung antar generasi.
Acara peresmiannya bakal digelar di Sekolah Rakyat Terpadu 9 Banjarbaru, yang berlokasi di lingkungan Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahraan Sosial setempat. Nah, apa saja sih hal penting yang perlu kita tahu tentang program ini?
Gagasan Langsung dari Presiden
Inisiatif ini datang langsung dari Prabowo. Gagasannya kemudian dituangkan dalam sebuah Inpres tentang pengentasan kemiskinan ekstrem. Jadi, ini bukan program biasa, melainkan bagian dari strategi besar pemerintah.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf, atau yang akrab disapa Gus Ipul, menegaskan hal itu.
"Karena ini bagian dari pengentasan kemiskinan. Anaknya sekolah, keluarganya diberdayakan. Anaknya lulus, keluarganya naik kelas (dan) menjadi berdaya. Ini istimewa dan ini tentu legacy dari Bapak Presiden Prabowo," ujarnya dalam sebuah keterangan tertulis, Minggu kemarin.
Latar belakangnya sederhana tapi memprihatinkan. Masih banyak sekali anak dari keluarga tak mampu yang sulit mengakses pendidikan. Data BPS menyebut angkanya lebih dari tiga juta anak. Mereka tidak sekolah, putus sekolah, atau berisiko untuk berhenti belajar.
Rekrutmennya Unik, Tanpa Tes Akademik
Siapa yang bisa masuk? Sasaran utamanya adalah anak dari keluarga di lapisan terbawah, berdasarkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Proses seleksinya pun berbeda. Tidak ada ujian masuk atau tes pelajaran. Calon siswa diverifikasi langsung oleh pendamping yang datang ke rumah mereka. Sistemnya mengandalkan data kemiskinan yang akurat.
Begitu mulai masuk, siswa akan menjalani pemeriksaan kesehatan gratis. Mereka juga akan melalui pemetaan bakat atau DNA talent mapping untuk mengetahui potensi terpendam mereka.
Sudah Ribuan Siswa Terdaftar
Meski baru diresmikan, program rintisannya sudah jalan sejak tahun lalu. Tercatat ada 166 lokasi yang dibuka secara bertahap, tersebar dari Sumatera sampai Papua.
"Hari Senin nanti akan diresmikan atau diluncurkan secara resmi Sekolah Rakyat rintisan di 166 titik," kata Gus Ipul.
Hingga saat ini, sudah hampir 16 ribu siswa yang menempuh pendidikan di sana selama satu semester. Ke depannya, targetnya jauh lebih besar: 500 sekolah dengan kapasitas masing-masing bisa menampung hingga seribu siswa.
Tak Hanya Bantu Siswa, Tapi Ciptakan Lapangan Kerja
Dampak program ini ternyata lebih luas. Di fase awal, Sekolah Rakyat telah menyerap lebih dari tujuh ribu tenaga kerja. Ribuan di antaranya adalah guru, sisanya tenaga kependidikan. Angka ini diprediksi akan terus membengkak seiring dengan pembangunan sekolah permanen yang sudah dimulai di lebih dari seratus lokasi.
Konsep Asrama dan Kurikulum Fleksibel
Sekolah Rakyat mengadopsi sistem boarding school. Semua kebutuhan hidup dan belajar siswa ditanggung negara, dari seragam, makan, sampai tempat tinggal. Tujuannya, membentuk karakter mandiri dan disiplin.
Kurikulumnya juga tidak kaku. Mereka pakai sistem Multi Entry-Multi Exit, yang memungkinkan siswa belajar berdasarkan capaian individu, bukan terpaku pada kalender akademik seragam. Pendekatannya personal, mengacu pada hasil pemetaan bakat tadi.
Seperti Miniatur Program Pengentasan Kemiskinan
Yang menarik, program ini tidak berjalan sendiri. Di bawah koordinasi Kemensos, Sekolah Rakyat menjadi semacam proyek percontohan pengentasan kemiskinan terpadu. Berbagai program pemerintah lain ikut menyatu di sini.
Orang tua siswa juga dapat pendampingan, bantuan perbaikan rumah, jaminan kesehatan, hingga menjadi anggota koperasi.
"Rumahnya nanti akan dibantu, orang tuanya jadi anggota Koperasi Desa Merah Putih, dapat bantuan sosial lengkap... dapat PBI JKN, dapat makan bergizi dan cek kesehatan," jelas Gus Ipul.
Masa Depan Siswa Sudah Dipikirkan
Bagaimana nasib siswa setelah lulus? Ini juga sudah dipersiapkan. Proses hilirisasi dimulai sejak dini. Siswa yang ingin kuliah akan difasilitasi beasiswa kerja sama dengan sejumlah universitas. Bagi yang ingin langsung kerja, Kemensos berkolaborasi dengan Kementerian Ketenagakerjaan.
Bahkan, siswa jenjang SMP yang punya kemampuan akademik bagus akan mendapat jalur untuk melanjutkan ke Sekolah Garuda.
Jadi, program ini seperti sebuah ekosistem lengkap. Bukan sekadar menyekolahkan anak, tapi mengangkat derajat seluruh keluarganya. Tantangannya tentu besar, terutama dalam konsistensi pelaksanaan. Tapi setidaknya, langkah awal sudah dimulai.
Artikel Terkait
Ketua Ombudsman RI Ditahan Kejagung, Lembaga Minta Maaf ke Publik
Gubernur DKI Peringatkan Ancaman Pangan dan ISPA Menyusul Fenomena El Nino
Bupati Malang Lantik Putra Kandung Pimpin DLH, Tegaskan Tak Ada Jual Beli Jabatan
Trump Ancam Pecat Powell Jika Tak Lengser Tepat Waktu