Latar belakang pernyataan ini tentu saja adalah dakwaan korupsi pengadaan laptop senilai Rp 2,1 triliun yang menjerat Nadiem. Salah satu poin penting dalam dakwaan jaksa adalah masalah fungsi laptop Chromebook di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). Laptop yang dikatakan tak bisa dipakai tanpa internet itu dianggap menyulitkan proses belajar-mengajar di sana.
Menanggapi kritik itu, Google pun angkat suara. Mereka membela produknya dengan menyebut Chromebook justru dirancang untuk berbagai kondisi kelas, termasuk yang serba terbatas. Faktanya, perangkat ini tetap bisa dipakai secara offline.
Google juga menekankan bahwa Chromebook memenuhi semua aturan teknis dari Kementerian. Panduan pengadaan lokal (DAK Fisik) sendiri, kata mereka, mengacu pada solusi digital yang holistik. Artinya, perangkat harus dipasangkan dengan infrastruktur pendukung seperti router dan di lokasi yang sudah terverifikasi kelistrikannya.
Praktik semacam ini, klaim Google, sudah terbukti berhasil di banyak daerah terpencil di berbagai penjuru dunia. Dari Brasil sampai Jepang.
Artikel Terkait
Gempa 4,9 SR Guncang Melonguane di Kedalaman 82 Kilometer
Ricuh Suporter Warnai Malam Bogor, Jalanan Sempat Diblokir Massa
Malam Minggu Berdarah di Cilebut: Dikeroyok, Motor Tercebur, Ponsel Direnggut
Tujuh Remaja Diamankan Saat Hendak Tawuran Dini Hari di Palmerah