"Namun setelah ompreng tiba di tempat oleh ibu kader yang bersangkutan, makanan yang di dalam ompreng dipindahkan dan disatukan penyajiannya di dalam kantong plastik," jelas Dimas.
Alasannya? Kata si kader, ini murni spontanitas. "Ompreng kembali dibawa pulang oleh sopir dengan keadaan kosong," tambahnya.
SPPG baru tahu keesokan harinya, setelah video pendek itu ramai dibahas. Mereka langsung bergerak melakukan klarifikasi.
"Setelah video tersebut viral kami pihak SPPG Karyasari Sukaresmi mengundang para ibu kader untuk komunikasi lebih dalam," ujar Dimas.
Pertemuan itu digelar Jumat, 9 Januari. Dan di sana, kader yang bersangkutan mengaku. Mereka memasukkan menu ke dalam plastik karena keadaan yang spontan itu tadi.
Jadi, sederhananya, ada selisih antara prosedur resmi dan eksekusi di lapangan. Niatnya mungkin baik, tapi cara penyajiannya yang membuat publik heboh. Soal apakah alasan "spontanitas" itu bisa diterima, tentu lain cerita. Yang jelas, kejadian ini menyisakan catatan penting tentang pengawasan dan konsistensi dalam penyaluran bantuan.
Artikel Terkait
Truk Angkut Limbah Besi Tabrak 8 Kendaraan di Bekasi, Diduga Gagal Rem
Polres Pelabuhan Tanjungperak Gelar Patroli Cipkon, Kawasan Rawan Aman Kondusif
Jaksa Tuntut Eks Petinggi Pertamina 6,5 Tahun Penjara dalam Kasus Korupsi LNG
MK Gelar Purnabakti Hakim Anwar Usman, Sambut Dua Hakim Konstitusi Baru