Banjir bandang dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah Sumatera tak hanya meninggalkan duka. Bagi Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri, peristiwa ini menciptakan korban sekaligus kecemasan mendalam, terutama di kalangan generasi muda.
“Yang paling merasakan kecemasan ini adalah generasi muda,” ujarnya.
“Mereka hidup dalam ketidakpastian, memandang masa depan dengan kegelisahan. Banyak di antara mereka merasa bahwa generasi sebelumnya telah gagal merawat bumi, dan bahwa hari esok justru tampak lebih menakutkan daripada hari ini,” imbuh Megawati.
Pernyataan itu disampaikannya dalam sambutan HUT ke-53 sekaligus Rakernas PDIP di Ancol, Jakarta Utara, Sabtu (10/1/2026) lalu. Acara berlangsung tertutup, namun teks pidatonya dibagikan kepada awak media. Juru bicara partai, Guntur Romli, mengizinkan kutipan tersebut untuk disiarkan.
Bagi Megawati, rangkaian bencana itu lebih dari sekadar fenomena alam biasa. Ia menyebutnya sebagai sebuah peringatan sejarah, isyarat keras tentang masa depan yang bisa jauh lebih katastrofik jika kita tak berubah.
“Bagi saya, bencana ini bukan peristiwa alam semata. Ini adalah peringatan sejarah,” tegasnya.
“Apabila umat manusia gagal mengubah arah peradabannya, gagal menghentikan pemanasan global, gagal mengubah cara memperlakukan alam, dan gagal menempatkan keselamatan rakyat di atas logika kapitalisme yang eksploitatif.”
Ia tak segan menuding ada andal kebijakan di balik musibah tersebut. Aturan-aturan yang ada, dalam pandangannya, justru seperti memberi karpet merah bagi perusakan alam.
Artikel Terkait
Rambu Baru di CFD Bundaran HI: Solusi atau Sekadar Peringatan?
Nakhoda Kapal Pinisi Labuan Bajo Jadi Tersangka, Polisi Tahan Penahanan
Mendagri Izinkan Warga Manfaatkan Kayu Hanyut untuk Bangun Rumah
KPK Gagalkan Bagi-bagi Dolar Singapura untuk Potong Pajak Rp60 Miliar