Pesan itu jelas: keberanian adalah kunci. Tapi bukan sembarang berani.
Di sisi lain, Megawati juga menekankan soal sikap rendah hati. Seorang kader, menurutnya, harus berani diuji oleh kebenaran. Bahkan berani mengakui kesalahan dan memperbaiki diri. “Anak-anakku, jangan pernah takut pada kebenaran. Kebenaran adalah api yang menyucikan,” ujarnya. “Kader PDI Perjuangan harus berani disucikan oleh kebenaran itu berani mengakui kesalahan, berani memperbaiki diri, dan berani berdiri tegak meski sendirian.”
Nada pidatonya terasa seperti wejangan seorang ibu sekaligus komandan. Ia menegaskan, pejuang sejati bukanlah pencari popularitas atau pujian kosong. Melainkan pencari tanggung jawab dan pengabdian yang tulus.
Bangsa ini, sambungnya, butuh teladan nyata. Bukan sekadar retorika. Politik pun harus dikembalikan ke khittahnya: politik moral, gotong royong, dan pengabdian.
“Jadikan setiap langkah politik kita sebagai tanggung jawab sejarah,” imbuh Megawati. Menjadi kader partai berlambang banteng itu, katanya, bukan cuma soal seragam merah atau mengutip nama Bung Karno. Lebih dari itu, tentang menghidupi nilai perjuangan dalam setiap pikiran, tindakan, dan tentu saja, hati nurani.
Artikel Terkait
WNA Diduga Ekshibisionis di Blok M Kabur, Beralasan Cuaca Panas Bikin Gatal
Motor Trail Menembus Medan Ekstrem, Bantuan Sampai ke Pelosok Aceh Tengah
Gelombang Bom Guncang SPBU Thailand Selatan, Empat Orang Terluka
Kemenag Tegaskan Awal Ramadan 2026 Tunggu Sidang Isbat, Bukan Kalender