Di tengah riuh Rakernas PDIP di Ancol, Sabtu kemarin, Ketum Megawati Soekarnoputri menyampaikan pesan yang tegas dan penuh makna. Ia meminta para kadernya untuk tidak sekadar jadi pengikut, tapi jadi penjaga. Penjaga alam, dan tentu saja, penjaga rakyat.
“Kader tidak boleh menjadi bagian dari kerusakan alam dan penderitaan rakyat,” tegas Megawati dalam pidatonya yang menandai HUT ke-53 partai itu.
Acara itu sendiri berlangsung tertutup. Namun, teks pidato lengkapnya dibagikan ke awak media. Juru bicara PDIP, Guntur Romli, mengizinkan isinya untuk dikutip.
Bagi Megawati, menjadi pandu Ibu Pertiwi punya arti yang dalam. Itu soal menjaga keseimbangan yang rapuh. Antara manusia dan alam, kekuasaan dan moral, atau pembangunan dan keadilan. Semuanya harus selaras.
“Berani mengatakan tidak pada kebijakan yang merusak bumi,” lanjutnya tanpa tedeng aling-aling. “Berani melawan keserakahan yang mengorbankan rakyat. Dan berani berdiri tegak di atas kebenaran, apa pun konsekuensinya.”
Artikel Terkait
Mendagri Izinkan Warga Manfaatkan Kayu Hanyut untuk Bangun Rumah
KPK Gagalkan Bagi-bagi Dolar Singapura untuk Potong Pajak Rp60 Miliar
Akhirnya, 98 Tiang Monorel Mangkrak di Rasuna Said Akan Dibongkar
Tok... Tok... di Malam Cengkareng, Ritme Penjaga yang Tak Lekang Waktu