Megawati Tegaskan Kader PDIP Harus Jadi Penjaga Alam dan Rakyat

- Sabtu, 10 Januari 2026 | 20:15 WIB
Megawati Tegaskan Kader PDIP Harus Jadi Penjaga Alam dan Rakyat

Di tengah riuh Rakernas PDIP di Ancol, Sabtu kemarin, Ketum Megawati Soekarnoputri menyampaikan pesan yang tegas dan penuh makna. Ia meminta para kadernya untuk tidak sekadar jadi pengikut, tapi jadi penjaga. Penjaga alam, dan tentu saja, penjaga rakyat.

“Kader tidak boleh menjadi bagian dari kerusakan alam dan penderitaan rakyat,” tegas Megawati dalam pidatonya yang menandai HUT ke-53 partai itu.

Acara itu sendiri berlangsung tertutup. Namun, teks pidato lengkapnya dibagikan ke awak media. Juru bicara PDIP, Guntur Romli, mengizinkan isinya untuk dikutip.

Bagi Megawati, menjadi pandu Ibu Pertiwi punya arti yang dalam. Itu soal menjaga keseimbangan yang rapuh. Antara manusia dan alam, kekuasaan dan moral, atau pembangunan dan keadilan. Semuanya harus selaras.

“Berani mengatakan tidak pada kebijakan yang merusak bumi,” lanjutnya tanpa tedeng aling-aling. “Berani melawan keserakahan yang mengorbankan rakyat. Dan berani berdiri tegak di atas kebenaran, apa pun konsekuensinya.”

Pesan itu jelas: keberanian adalah kunci. Tapi bukan sembarang berani.

Di sisi lain, Megawati juga menekankan soal sikap rendah hati. Seorang kader, menurutnya, harus berani diuji oleh kebenaran. Bahkan berani mengakui kesalahan dan memperbaiki diri. “Anak-anakku, jangan pernah takut pada kebenaran. Kebenaran adalah api yang menyucikan,” ujarnya. “Kader PDI Perjuangan harus berani disucikan oleh kebenaran itu berani mengakui kesalahan, berani memperbaiki diri, dan berani berdiri tegak meski sendirian.”

Nada pidatonya terasa seperti wejangan seorang ibu sekaligus komandan. Ia menegaskan, pejuang sejati bukanlah pencari popularitas atau pujian kosong. Melainkan pencari tanggung jawab dan pengabdian yang tulus.

Bangsa ini, sambungnya, butuh teladan nyata. Bukan sekadar retorika. Politik pun harus dikembalikan ke khittahnya: politik moral, gotong royong, dan pengabdian.

“Jadikan setiap langkah politik kita sebagai tanggung jawab sejarah,” imbuh Megawati. Menjadi kader partai berlambang banteng itu, katanya, bukan cuma soal seragam merah atau mengutip nama Bung Karno. Lebih dari itu, tentang menghidupi nilai perjuangan dalam setiap pikiran, tindakan, dan tentu saja, hati nurani.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar