Menanggapi gejolak ini, IRGC baru-baru ini mengeluarkan pernyataan keras. Mereka menegaskan bahwa menjaga keamanan adalah "garis merah" yang tak boleh dilanggar, dan militer berjanji bakal melindungi aset-aset publik. Dalam siaran televisi pemerintah, IRGC bahkan menuduh ada kelompok teroris yang menargetkan pangkalan militer dan markas penegak hukum dalam dua malam terakhir. Serangan itu, klaim mereka, menewaskan sejumlah warga sipil dan personel keamanan.
Gelombang protes ini rupanya menarik perhatian dunia, khususnya Amerika Serikat. Presiden Donald Trump pada Jumat (9/1) lalu mengeluarkan peringatan baru untuk para pemimpin Iran. Esok harinya, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio ikut bersuara.
Otoritas Iran sendiri tak tinggal diam. Mereka kerap menuding Amerika Serikat dan Israel berada di balik "kerusuhan" ini. Sementara itu, laporan dari berbagai kelompok HAM menyebut puluhan demonstran telah kehilangan nyawa dalam aksi yang berujung ricuh ini. Situasinya memang rumit, dan akhir dari semua ini masih belum jelas.
Artikel Terkait
Razia Dadakan di Rutan Depok Sita Ponsel hingga Senjata Rakitan dari Sendok
Penjualan Mobil Nasional Anjlok 13,8% pada Maret 2026, Libur Panjang Jadi Penyebab
Dukcapil: Proses Cetak Ulang e-KTP Hilang Gratis dan Tanpa Surat RT/RW
Oknum Bhabinkamtibmas Grobogan Diamankan Usai Viral Minta Uang Keamanan ke Ibu-ibu