“Cina tidak peduli pada hukum internasional,” kata Elizabeth Freund Larus, adjunct senior fellow di Pacific Forum. Dia merujuk pada sikap militer Beijing di Laut Cina Selatan dan keengganannya mengutuk invasi Rusia ke Ukraina.
“Kita bisa menerjemahkan peringatan Beijing ke Washington sebagai tuntutan bahwa 'Cina ingin uangnya kembali!' dan 'menuntut agar AS tetap mengalirkan minyak Venezuela ke Cina!'” tambahnya.
Meski bahasanya keras, faktanya Cina belum melakukan tindakan nyata sebagai balasan atas gerakan AS di Venezuela. Ryan Hass, direktur John L. Thornton China Center di Brookings Institution, punya penilaian serupa.
“Beijing kemungkinan tidak akan melangkah lebih jauh dari ekspresi simbolik ketidaksetujuan,” ujarnya.
Dia menambahkan, insiden ini kecil kemungkinannya akan mengubah arah hubungan AS-Cina secara signifikan. “Tindakan AS di Venezuela hanya akan memengaruhi hubungan kedua negara jika membuat Amerika terseret dan terjebak dalam kekacauan di Venezuela.”
Apa Taiwan Jadi Contoh Berikutnya?
Di media sosial Cina, penangkapan Maduro jadi perbincangan hangat. Insiden di seberang Samudra Pasifik itu memicu komentar-komentar dari netizen ultranasionalis. Mereka bilang, AS sedang memberi contoh cara menangani ketegangan dengan Taiwan. Padahal, baru-baru ini Presiden Xi Jinping kembali menegaskan tekadnya untuk menyatukan pulau tersebut, terlepas dari segala ancaman AS.
Ketika ditanya tentang spekulasi terkait Taiwan pada Senin lalu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Lin Jian kembali mengulang garis resmi Beijing: masalah Taiwan adalah "urusan internal" dan "tidak ada kekuatan eksternal yang berhak mencampuri."
Namun begitu, para analis menekankan bahwa membandingkan Venezuela dengan Taiwan itu seperti membandingkan apel dan jeruk. Situasinya jauh berbeda.
“Venezuela adalah negara yang hancur dan dipimpin oleh seorang penguasa otoriter. Taiwan adalah demokrasi yang hidup,” jelas Ryan Hass. “Cina tidak bisa mencapai tujuan di Taiwan hanya dengan menangkap pemimpin terpilihnya.”
Elizabeth Freund Larus menambahkan poin lain.
“Beijing telah berniat mengambil Taiwan jauh sebelum ini dan akan tetap berniat setelah ini. Cina belum melakukannya karena belum ada jaminan kesuksesan. Tapi hari itu semakin dekat, terlepas dari Trump.”
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris.
Diadaptasi oleh Rizki Nugraha
Editor: Yuniman Farid
Artikel Terkait
DPR Serahkan Eksekusi Rehabilitasi Pascabencana Sumatera ke Satgas Tito
Proyektor dan Kipas Angin Raib Digasak Maling di SDN Rumpin
Isra Mikraj Jadi Inspirasi Penyembuhan Luka Batin di Bincang Madarif 2026
PDIP Keluarkan Surat Larangan Korupsi, Megawati Tegaskan Nol Toleransi