Buktinya nyata. Departemen Keuangan AS bahkan sudah menyita bitcoin senilai US$14 miliar, atau sekitar Rp232 triliun, yang dikaitkan dengan dirinya. Penyitaan ini disebut-sebut sebagai yang terbesar sepanjang sejarah terkait mata uang kripto.
Ironisnya, citra publik Chen sama sekali berbeda. Di situs perusahaannya, Cambodian Prince Group, ia digambarkan sebagai "seorang pengusaha yang dihormati dan filantropis terkenal."
Visi dan kepemimpinannya, menurut situs itu, telah mengantar grup bisnisnya menjadi salah satu yang terkemuka di Kamboja dengan standar internasional.
Kisah Awal yang Biasa
Lahir dan besar di Provinsi Fujian, China, awal kariernya biasa-biasa saja. Chen memulai dari sebuah perusahaan gim internet kecil yang boleh dibilang tidak sukses.
Semuanya berubah ketika ia memutuskan pindah ke Kamboja sekitar akhir 2010 atau 2011. Di sana, ia terjun ke sektor properti yang sedang meledak-ledak. Waktunya tepat.
Kedatangannya bersamaan dengan gelombang spekulasi properti besar-besaran di Kamboja. Ledakan itu dipicu oleh beberapa hal: lahan-lahan luas yang dikuasai oleh orang-orang berpengaruh dengan koneksi politik kuat, serta derasnya aliran investasi dari China.
Sebagian besar modal itu mengalir pada fase akhir Inisiatif Sabuk dan Jalan Presiden Xi Jinping. Sebagian lagi datang dari investor perorangan China yang mencari peluang baru, menghindari pasar properti dalam negeri mereka yang sedang lesu. Di tengah gelombang inilah Chen Zhi menemukan momentumnya sebelum akhirnya segalanya runtuh.
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Lantik Andi Rahadian Jadi Dubes untuk Oman dan Yaman
Persita Hadapi Arema di Banten, Momentum dan Tekanan Jadi Bahan Pertimbangan
Tiga Orang Luka-Luka dalam Kecelakaan Truk Kontainer di Turunan Silayur Semarang
Ketua Parlemen Iran: Waktu AS dan Israel Patuhi Gencatan Senjata di Lebanon Hampir Habis