Semuanya berawal dari aksi Sabtu (3/1) lalu. Pasukan AS menggempur Caracas dengan satu misi utama: menangkap Maduro. Operasi itu, menurut pihak AS, melibatkan hampir dua ratus personel militernya. Gempuran itu tak hanya mengubah peta politik, tapi juga menorehkan luka yang dalam.
Kuba dan Venezuela menyebutkan 55 personel militer mereka tewas. Sementara itu, jaksa agung Venezuela berbicara soal puluhan korban jiwa dari kalangan sipil dan militer, meski rincian pastinya belum diungkap.
Serangan itu akhirnya berhasil. Maduro dan istrinya, Cilia Flores, berhasil ditahan oleh pasukan AS. Momen itu menutup sebuah babak panjang: dua belas tahun pemerintahan Maduro yang oleh banyak pihak dianggap kian otoriter.
Di sisi lain, Washington punya alasan kuat. Otoritas AS telah lama menuduh Maduro menjalankan kartel narkoba. Buronan dengan harga kepala fantastis, 50 juta dolar AS atau sekitar Rp 838 miliar, itu akhirnya berhasil diamankan. Operasi militer yang singkat itu telah mengubah segalanya, meninggalkan negeri itu berduka dan dunia menyaksikan.
Artikel Terkait
Pemerintah Tegaskan Harga BBM Subsidi Tak Naik hingga Akhir 2026
Keluarga Laporkan Suami Gadungan yang Klaim Anak Pejabat DPRD Makassar
BNPP Soroti Peran Strategis Dai dalam Pembangunan Kawasan Perbatasan
Hizbullah Tolak Rencana Israel untuk Negosiasi Langsung dengan Lebanon