Tapi, bukannya berhenti, ia malah kalap. Hasil yang menggiurkan itu justru membuatnya ingin terus bermain. Sayangnya, keberuntungan tak selalu berpihak. Pelaku mulai merugi, dan kerugian itu seperti lubang hitam yang terus menyedot segalanya.
Untuk menutupi kerugian dan berusaha balik modal, HA nekat berhutang ke mana-mana. Dari bank, ia meminjam Rp 700 juta. Dari koperasi tempatnya bekerja, ditariknya Rp 70 juta. Bahkan, pinjaman online (pinjol) sebesar Rp 50 juta pun ia jajal. Semua dana segar itu kembali ia gelontorkan ke pasar kripto, dan lagi-lagi habis tak bersisa.
Di sisi lain, penyelidikan polisi mengungkap beban lain yang dipikul HA. Dari handphone pelaku, ditemukan rekam medis yang menunjukkan ia menderita kanker stadium 3 sejak tahun 2020.
"Setiap minggu, ia rutin berobat dan kontrol dokter. Kemoterapinya dilakukan di rumah sakit S di daerah Semanggi," jelas Dian.
Tekanan ekonomi yang begitu hebat, ditambah kondisi kesehatannya, diduga menjadi pemicu akhir yang mendorongnya melakukan kejahatan ini. Kombinasi yang mematikan antara keputusasaan dan himpitan finansial.
Artikel Terkait
Sheinbaum Siap Hadapi Trump, Tolak Ancaman Serangan Darat ke Meksiko
Operasi SAR KM Putri Sakinah Resmi Ditutup, Satu Korban Masih Hilang
Operasi Gabungan di Soetta Gagalkan Penyelundupan Sabu Lewat Modus Ditelan
159 Kapsul Sabu Dikeluarkan dari Perut Dua WN Pakistan di Soetta