Menurutnya, pola komunikasi yang akrab seperti ini sangat diperlukan. Tujuannya, agar masyarakat tergerak dari dalam diri untuk patuh, bukan karena takut ditilang. Kesadaran berlalu lintas, dalam pandangannya, harus jadi budaya. Bukan sekadar aturan kaku yang dipatuhi dengan terpaksa.
Dia melanjutkan dengan nada yang cukup filosofis. Hampir semua orang kini menggunakan kendaraan, katanya. Maka, menciptakan budaya tertib di jalan adalah sebuah keharusan.
Jadi, langkah ini bukan sekadar program sesaat. Agus rupanya sedang mencoba membangun fondasi yang lebih kuat. Pendekatan personal, dari hati ke hati, diharapkan bisa mengubah kebiasaan lama yang sulit diatur hanya dengan hukum.
Waktulah yang akan membuktikan apakah strategi pertemanan ini benar-benar efektif. Tapi setidaknya, ada upaya untuk mencairkan sekat yang selama ini mungkin ada di jalanan.
Artikel Terkait
Persib Bandung Kokoh di Puncak Klasemen Usai Kalahkan Semen Padang 2-0
Pengendara Motor Tewas Tertindas Truk Trailer di RE Martadinata
Gunung Dukono Erupsi, Status Waspada Berlaku dan Warga Tobelo Diimbau Waspada Hujan Abu
Iran Bantah Klaim Trump Soal Evakuasi Pilot AS yang Ditembak Jatuh