Harapannya sederhana: 24 jam perdamaian di seluruh dunia. Sayangnya, di lapangan, situasi justru bergerak ke arah sebaliknya.
Di sisi lain, konflik di Ukraina masih terus memanas. Baru sehari sebelumnya, pasukan Ukraina terpaksa mundur dari sebuah kota di timur setelah pertempuran sengit. Serangan-serangan Moskow yang tak henti menewaskan tiga warga sipil dan memutus listrik ribuan rumah di tengah cuaca yang membekukan. Perundingan? Sepertinya masih mentok. Pertemuan terpisah para negosiator utama dengan pejabat AS di Miami akhir pekan lalu belum juga menampakkan tanda-tanda terobosan.
Upaya diplomatik Paus sendiri terus berjalan. Awal bulan ini, dia bertemu dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. Saat ditanya apakah akan menerima undangan untuk mengunjungi Ukraina, Leo menjawab singkat, 'Saya harap begitu'.
Tapi dia juga realistis. "Tidak mungkin untuk mengatakan kapan perjalanan tersebut akan memungkinkan," imbuhnya.
Leo tampaknya punya pandangan yang jelas tentang jalan menuju perdamaian. Menurutnya, mustahil mencari penyelesaian di Ukraina tanpa melibatkan diplomasi Eropa. Dia juga mengingatkan soal rencana perdamaian yang diusung Presiden AS Donald Trump. Rencana itu, dalam pandangannya, berisiko memicu 'perubahan besar' dalam aliansi transatlantik. Sebuah peringatan yang serius, di tengah harapan akan perdamaian yang kian meredup.
Artikel Terkait
Menkominfo Tegaskan Perjanjian Data dengan AS Tidak Serahkan Data Warga
Indonesia Peringkat Kedua Dunia Kasus Campak, DPR Desak Kemenkes Siaga Penuh
Menteri Ghana Ungkap 55 Warga Negara Tewas di Ukraina Akibat Rekrutmen Ilegal Rusia
GAPKI Serukan Diplomasi Perdagangan Kuat Antisipasi Hambatan Ekspor