Hanukkah Berdarah di Bondi: Dunia Berduka dan Netanyahu Tuding Australia Lemah

- Senin, 15 Desember 2025 | 11:05 WIB
Hanukkah Berdarah di Bondi: Dunia Berduka dan Netanyahu Tuding Australia Lemah

Duka kembali melanda. Minggu kemarin (15/12), Pantai Bondi di Sydney yang biasanya ramai oleh turis, berubah menjadi lokasi tragedi berdarah. Serangan penembakan terjadi tepat saat komunitas Yahudi setempat merayakan hari pertama Hanukkah festival cahaya yang seharusnya penuh sukacita.

Korban jiwa, sayangnya, terus bertambah. Hingga saat ini, 15 orang dilaporkan tewas. Salah satu dari dua pelaku juga tewas di tempat. Sedikitnya 38 orang lainnya mengalami luka-luka, termasuk dua anggota polisi yang bertugas. Mereka sudah dilarikan ke sejumlah rumah sakit di Sydney.

Gelombang kecaman dan belasungkawa pun mengalir deras dari berbagai penjuru dunia. Reaksinya beragam, mulai dari dukacita yang mendalam hingga kecaman politik yang tajam.

Israel: Kecaman Pedas Netanyahu

Dari Yerusalem, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu melontarkan kritik keras bahkan menyalahkan pemerintah Australia pimpinan Anthony Albanese. "Antisemitisme adalah kanker," ujarnya dalam pidato berapi-api. "Ia menyebar ketika para pemimpin tetap diam." Netanyahu menuduh pemerintah Albanese lemah. "Saya menyerukan kepada Anda untuk mengganti kelemahan dengan tindakan. Sebaliknya, Anda justru mengganti kelemahan dengan kelemahan lain," serunya. "Pemerintahan Anda tidak melakukan apa-apa untuk mengekang sel-sel kanker yang tumbuh di negara ini. Anda membiarkan penyakit ini menyebar, dan hasilnya adalah serangan mengerikan yang kita saksikan hari ini."

Amerika Serikat: Trump Sebut "Murni Anti-Semit"

Sementara itu, dari Gedung Putih, Presiden Donald Trump menyampaikan belasungkawa sambil menegaskan motif serangan. "Di Australia terjadi serangan yang mengerikan," katanya dalam sebuah acara Natal. "Ini jelas merupakan serangan anti-Semit. Saya hanya ingin menyampaikan belasungkawa saya kepada semua orang," tambah Trump.

Dari Dunia Muslim: Kutukan dan Solidaritas

Sejumlah negara mayoritas Muslim juga angkat bicara. Arab Saudi, misalnya, menegaskan penolakannya terhadap segala bentuk terorisme dan menyampaikan duka citanya untuk Australia. Iran, melalui Kementerian Luar Negerinya di platform X, mengecam keras insiden itu. "Teror dan pembunuhan massal harus dikecam, di mana pun terjadi," bunyi pernyataan mereka. Suara serupa datang dari Turki, Uni Emirat Arab, dan Qatar. Mereka sepakat mengutuk aksi kekerasan yang menargetkan warga sipil tersebut.

Inggris: Dukacita Raja Charles dan PM Starmer

Raja Charles III mengaku "sangat terkejut dan sedih" mendengar kabar ini. Dalam pesan dari Buckingham Palace, ia memuji keberanian polisi dan layanan darurat. "Tindakan heroik mereka tidak diragukan lagi mencegah tragedi yang lebih besar," tulisnya. Ia yakin cahaya Hanukkah dan semangat kebersamaan Australia akan mengalahkan kegelapan kejahatan. Di sisi lain, Perdana Menteri Keir Starmer menyebut berita dari Sydney sebagai kabar yang "sangat menyedihkan". Inggris, kata dia, menyampaikan simpati mendalam untuk semua yang terdampak.

Prancis hingga Malaysia

Presiden Prancis Emmanuel Macron berjanji Prancis akan terus berjuang tanpa henti melawan kebencian anti-Semit. "Yang menyakiti kita semua, di mana pun terjadi," tegasnya. Dari Kuala Lumpur, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menyatakan keprihatinan mendalam. "Tidak ada pembenaran untuk kekerasan yang ditujukan kepada warga sipil, apalagi berdasarkan ras atau agama," tulisnya di X.

Solidaritas dari Negara-Negara Lain

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy turut menyampaikan belasungkawa dan mendoakan kesembuhan para korban luka. "Teror dan kebencian harus dikalahkan di mana pun," ujarnya. Perdana Menteri Kanada Mark Carney mengingatkan bahwa Hanukkah adalah simbol ketahanan. "Semoga kita semua mendukung dan memperkuat ketahanan itu," harapnya. Sedangkan dari Selandia Baru, PM Christoper Luxon mengungkapkan keterkejutannya. Hubungan kedua negara, katanya, seperti keluarga. "Pikiran seluruh warga Selandia Baru bersama mereka yang terkena dampak," pungkas Luxon.

Tragedi di Bondi ini, sekali lagi, menyisakan luka yang dalam. Dunia pun menunggu, apa langkah selanjutnya setelah rentetan belasungkawa ini berakhir.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar