Antrean Ribuan Pelamar, Sektor Informal Melonjak: Apindo Soroti Bom Waktu Ketenagakerjaan

- Sabtu, 31 Januari 2026 | 02:20 WIB
Antrean Ribuan Pelamar, Sektor Informal Melonjak: Apindo Soroti Bom Waktu Ketenagakerjaan

Di tengah upaya mencapai target pertumbuhan ekonomi, Ketua Umum Apindo Shinta Kamdani justru mengingatkan satu tantangan klasik yang tak kunjung usai: lapangan kerja. Menurutnya, dinamika dunia usaha memang punya peran besar, tapi setiap indikator makro yang berkaitan dengan bisnis harus dilihat sebagai ujian nyata bagi perekonomian.

Masalahnya, kata Shinta, mendapatkan pekerjaan saat ini bukan perkara mudah. Coba saja buka bursa lowongan, yang mengantri bisa ribuan orang untuk posisi yang jumlahnya sangat sedikit.

"Tidak mudah mendapatkan pekerjaan hari-hari ini. Kalau kita buka bursa pekerjaan, itu yang ngantri ribuan untuk pekerjaan yang jumlahnya sangat terbatas,"

Ujarnya dalam diskusi Economic Insight 2026 di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, akhir Januari lalu.

Yang lebih mengkhawatirkan, mayoritas lapangan kerja yang tersedia justru ada di sektor informal. Angkanya menembus lebih dari 50 persen dan terus naik. Ini bukan sekadar data statistik, melainkan isu ekonomi serius. Pekerja di sektor ini seringkali menghadapi ketidakpastian.

"Yang perlu dikhawatirkan ini adalah sektor informal, karena mereka tidak mendapatkan pendapatan yang konsisten,"

tandas Shinta.

Memang, banyak dari angkatan kerja ini kemudian beralih ke usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Beralih dari pencari kerja menjadi pelaku usaha itu sah-sah saja. Namun begitu, kemampuan bisnis mereka untuk bertahan dan berkembang adalah persoalan lain yang butuh perhatian serius dari pemangku kepentingan.

Di sisi lain, Shinta turut menyoroti iklim investasi. Ia melihat pola yang berubah. Investasi yang masuk kini lebih banyak bersifat padat modal, bukan lagi padat karya seperti dulu. Era digitalisasi dan otomasi turut mempengaruhi hal ini, menyebabkan penyerapan tenaga kerja di industri terus merosot.

"Jadi kita kalau lihat investasi yang masuk, sudah lebih banyak ke yang namanya capital intensive, tidak ada lagi di labor intensive. Jadi ini shifting penyerapannya yang turun hampir seperempat 10 tahun terakhir, ini jelas menjadi perhatian,"

jelasnya.

Intinya, di balik optimisme pertumbuhan, persoalan ketenagakerjaan ini bagai bom waktu. Jika tidak diatasi, ia bisa menjadi penghambat utama bagi mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar