Gubernur Luthfi Jadi Bapak bagi Mahasiswa Korban Bencana di Perantauan

- Selasa, 09 Desember 2025 | 15:30 WIB
Gubernur Luthfi Jadi Bapak bagi Mahasiswa Korban Bencana di Perantauan

Di Asrama Mahasiswa Aceh, Tembalang, Semarang, suasana Senin (8/12) itu terasa berbeda. Gubernur Jawa Tengah, Luthfi, hadir bukan sekadar seremonial. Ia datang dengan janji yang konkret. Dalam dialog dengan puluhan mahasiswa yang kampung halamannya terdampak bencana, Luthfi tak cuma memberi semangat. Dia menawarkan diri menjadi ‘bapak’ bagi mereka yang merantau.

“Kamu punya bapak di sini,” tegasnya, dalam keterangan yang dirilis Selasa (9/12/2025).

Janjinya jelas. Bantuan biaya kos untuk tiga bulan ke depan akan diselesaikan. Soal biaya kuliah, dia sudah berkoordinasi dengan rektor masing-masing kampus untuk memberi keringanan. Tak cuma itu, provinsi juga akan mendukung kegiatan para mahasiswa ini. Intinya, Luthfi berjanji menjamin kelancaran proses belajar mereka di tanah rantau.

Menurut sejumlah saksi, komitmennya ini lahir dari empati yang mendalam. Sebagai mantan Kapolda Jateng, Luthfi paham betul tekanan yang menghimpit para mahasiswa. Selain beban finansial yang mendadak, ada kecemasan lain yang lebih besar: terputusnya komunikasi dengan keluarga di zona bencana.

Nah, untuk masalah yang satu ini, Luthfi juga tak tinggal diam. Dia berjanji akan aktif mengupayakan agar jalur komunikasi itu tersambung kembali.

“Ada beberapa mahasiswa yang sampai sekarang belum ada komunikasi. Ini penting kita bantu, biar hati mereka tenang dan bisa fokus lagi belajar,” jelasnya.

Bantuan yang dijanjikan memang terbilang komprehensif. Mulai dari tempat tinggal, kemudahan kuliah, sampai kebutuhan pokok sehari-hari. Semua dirancang agar beban mereka berkurang.

Disambut Rasa Syukur

Respons dari mahasiswa pun langsung terasa. Penuh rasa syukur. Muhammad Haekal Halifah, Ketua Ikatan Pelajar Aceh Semarang (IPAS), menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya. Saat ini, proses pendataan sedang digencarkan agar bantuan tepat sasaran.

“Di Aceh yang sudah terdata 107 mahasiswa. Sumbar ada sekitar 200-an, Sumut 100 lebih,” ujar mahasiswa Fakultas Hukum Undip itu.

Ghazza Al Hafizh Hasbi, mahasiswa asal Sumatera Barat, mengaku sangat terbantu. “Prioritas kami kan melanjutkan pendidikan. Dukungan seperti ini bikin semangat belajar nggak hilang,” ungkapnya.

Perasaan serupa diungkapkan Naswa Salsabila, perwakilan mahasiswa Sumut. Dia merasa diperhatikan, meski mereka bukan warga asli Jawa Tengah. Deklarasi Luthfi sebagai ‘bapak’ rupanya punya makna yang dalam.

Secara simbolik, ini seperti menegaskan prinsip kebersamaan: satu sakit, sakit semua. Jawa Tengah dijadikan rumah bersama. Di sisi lain, secara praktis, janji bantuan yang langsung menyentuh masalah inti uang dan komunikasi menunjukkan respons pemerintahan yang cepat dan empatik. Langkah ini bukan sekadar wacana, tapi penjabaran nyata dari filosofi ‘Ngopeni Nglakoni’. Sebuah ikrar untuk menjaga dan menjalani bersama dalam susah dan senang.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar