Kevin Germanier Sulap Sisa LVMH Jadi Mahakarya Haute Couture di Paris

- Jumat, 30 Januari 2026 | 10:36 WIB
Kevin Germanier Sulap Sisa LVMH Jadi Mahakarya Haute Couture di Paris

Panggung di Paris Kamis lalu (29/01) tampak berkilauan luar biasa. Di sana, desainer asal Swiss, Kevin Germanier, memamerkan koleksi haute couture-nya yang memukau. Yang menarik, semua kemewahan itu justru lahir dari barang sisa produk-produk tak terpakai dari rumah mode milik grup LVMH.

Model-model berjalan dengan anggun mengenakan gaun-gaun spektakuler. Ada gaun pesta tulle hitam yang dramatis, siluet hijau neon yang mencolok, dan setelan berpayet dengan detail yang rumit. Banyak dari busana itu juga dipadukan dengan hiasan kepala menakjubkan, berbentuk ranting atau bunga edelweiss yang menjulang tinggi. Sungguh sebuah pertunjukan visual yang padat dan penuh perhitungan.

Memang, itulah ciri khas Germanier. Desainer ini sudah dikenal luas karena gemar memakai manik-manik daur ulang, rhinestone, dan rumbai dalam karyanya. Dalam pameran kali ini, ia pun menekankan bahwa gaun-gaun buatannya sangatlah berat baik secara fisik maupun muatan artistiknya.

Germanier bercerita, ia ingin menghadirkan nuansa ceria dari musim sebelumnya.

“Saya benar-benar ingin mendaur ulang produk mereka yang tidak terjual dari berbagai merek,”

ujarnya. Inspirasi untuk koleksi ini ia dapatkan dengan pulang kampung ke Swiss.

“Di negara saya, bunga edelweiss dan tanaman berduri ada di mana-mana. Saya berpikir, mungkin sudah saatnya untuk menunjukkan sedikit sisi gelap tidak selalu berarti sesuatu yang menakutkan.”

Ada satu aksesori yang paling menyita perhatian: penutup wajah yang seluruhnya terbuat dari manik-manik. Menurut Germanier, itu adalah simbol perasaan kita yang terus-menerus diawasi oleh teknologi.

“Dalam dunia fashion, perlu memiliki selera humor. Mungkin perhiasan selanjutnya hanyalah riasan wajah yang seluruhnya terbuat dari manik-manik, sehingga tidak dapat dipantau lagi sama teknologi,”

katanya dengan nada sedikit bergurau. Gagasan yang provokatif, sekaligus jenaka. Di tangannya, sampah bisa jadi mahakarya, dan pengawasan teknologi bisa ditanggapi dengan permainan manik-manik yang berkilau.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar