LASIK Aman Asalkan Pasien Melewati Skrining Ketat, Dokter Ingatkan Pentingnya Pemeriksaan Pra-Tindakan

- Selasa, 16 Juni 2026 | 17:50 WIB
LASIK Aman Asalkan Pasien Melewati Skrining Ketat, Dokter Ingatkan Pentingnya Pemeriksaan Pra-Tindakan

Prosedur LASIK atau Laser-Assisted In Situ Keratomileusis kian populer sebagai solusi mengurangi ketergantungan pada kacamata dan lensa kontak. Namun, di tengah tingginya minat masyarakat, pertanyaan mengenai keamanan dan risiko pasca-tindakan masih kerap mengemuka.

Dokter Spesialis Mata RS Mata JEC @ Menteng, dr Devina Nur Annisa, Sp.M (K), menjelaskan bahwa LASIK adalah prosedur yang telah berkembang pesat berkat dukungan teknologi modern. Meski demikian, tindakan ini tetap harus diawali dengan pemeriksaan menyeluruh untuk memastikan pasien merupakan kandidat yang tepat.

“Bagi banyak orang, kacamata dan lensa kontak memang membantu, tetapi dalam aktivitas tertentu bisa terasa kurang praktis, misalnya saat berolahraga, bepergian, bekerja dalam waktu panjang, atau ketika lensa kontak memicu rasa kering dan tidak nyaman,” ujar dr Devina dalam keterangan resmi, Selasa (16/6/2026).

“Nah, LASIK hadir sebagai salah satu pilihan koreksi refraksi yang dapat membantu pasien melihat lebih jelas dan beraktivitas lebih bebas,” tambahnya.

Menurut dr Devina, keamanan prosedur ini tidak semata-mata ditentukan oleh kecanggihan teknologi yang digunakan. Faktor yang tak kalah penting adalah proses seleksi pasien sebelum tindakan dilakukan. Tidak semua orang dapat langsung menjalani prosedur ini.

“Yang terpenting adalah memastikan pasien memahami manfaat, proses, kriteria, serta potensi efek sampingnya melalui konsultasi dan pemeriksaan menyeluruh terlebih dahulu,” katanya.

Secara teknis, LASIK bekerja dengan menggunakan sinar laser untuk membentuk ulang kornea agar cahaya dapat difokuskan secara tepat ke retina. Prosedur ini dapat digunakan untuk mengoreksi berbagai kelainan refraksi, seperti rabun jauh (miopia), rabun dekat (hiperopia), dan mata silinder (astigmatisme).

Meski dikenal memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi, setiap tindakan medis tetap menyimpan risiko. Beberapa efek samping yang dapat muncul setelah LASIK antara lain mata kering sementara, silau saat melihat cahaya terang pada malam hari, serta penglihatan yang membutuhkan waktu untuk beradaptasi selama masa pemulihan.

Karena itu, pemeriksaan pra-LASIK menjadi tahap yang sangat penting. Pasien akan menjalani serangkaian evaluasi untuk menilai kondisi kornea, tajam penglihatan, kesehatan retina, hingga stabilitas ukuran kacamata.

Sementara itu, Dokter Spesialis Mata RS Mata JEC @ Menteng, dr Ferdiriva Hamzah, Sp.M (K), menegaskan bahwa keberhasilan LASIK modern dimulai jauh sebelum tindakan dilakukan.

“LASIK modern membutuhkan perencanaan yang matang. Karena itu, pemeriksaan pra-LASIK menjadi fondasi yang sangat penting untuk menilai apakah pasien merupakan kandidat yang tepat,” ujar dr Ferdiriva.

Secara umum, kandidat ideal untuk LASIK adalah mereka yang berusia minimal 18 hingga 20 tahun, memiliki ukuran kacamata yang stabil setidaknya dalam satu tahun terakhir, memiliki ketebalan kornea yang cukup, serta tidak mengalami gangguan mata tertentu seperti glaukoma, infeksi mata berat, gangguan retina, atau mata kering berat.

Selain itu, wanita yang sedang hamil biasanya tidak disarankan menjalani LASIK karena perubahan hormonal dapat memengaruhi stabilitas ukuran mata.

Dengan perkembangan teknologi dan proses skrining yang semakin komprehensif, LASIK kini menjadi salah satu pilihan koreksi penglihatan yang relatif aman bagi pasien yang memenuhi kriteria medis. Namun, para ahli mengingatkan bahwa konsultasi dengan dokter spesialis mata tetap menjadi langkah utama sebelum memutuskan menjalani tindakan tersebut.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar