Limbah Batok Kelapa Disulap Jadi Bra, Tembus Pasar Jamaika

- Rabu, 05 Agustus 2026 | 21:24 WIB
Limbah Batok Kelapa Disulap Jadi Bra, Tembus Pasar Jamaika

Limbah batok kelapa yang kerap dianggap sampah ternyata bisa disulap menjadi produk bernilai jual tinggi. Tiar Bachroni (31), perajin asal Desa Ngemplak, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, berhasil mengubahnya menjadi bra yang bahkan dipesan hingga ke Jamaika.

Pria yang akrab disapa Oni ini telah menekuni usaha kerajinan batok kelapa sejak 2018. Melalui usahanya yang diberi nama Istana Batok Kelapa, ia memanfaatkan limbah batok kelapa sebagai bahan baku utama. Menurutnya, limbah ini masih memiliki potensi besar untuk diolah menjadi berbagai produk kreatif.

"Kebanyakan orang menggunakan limbah batok kelapa untuk membuat arang. Ada juga yang menggunakannya untuk memasak. Saya mencoba mencari inovasi lain, yakni membuat kerajinan dari limbah batok kelapa," katanya, Rabu (5/8).

Motivasinya pun sederhana: ingin merawat bumi dengan memanfaatkan barang yang sudah tidak terpakai. Bahkan, ia kerap memungut batok kelapa di pinggir jalan yang sudah dibuang orang. "Saya cuek sih mau dibilang mulung atau apa yang penting tidak mencuri. Tetapi kalau saat ini lebih sering beli limbah batok kelapa dari daerah Purworejo karena pesanan sudah banyak," terangnya.

Kepiawaian Oni dalam mengolah batok kelapa diperoleh secara otodidak. Ia belajar dari Google dan YouTube. Meski sempat mendapat cibiran dari orang terdekat, ia tetap teguh pada pilihannya. "Cibiran datang dari orang terdekat. Mereka bilang ke saya sarjana kok kerja kasar. Saya pilih cuek dan tetap menekuni usaha ini," ujarnya.

Ide membuat bra dari batok kelapa muncul setelah ia menerima pesanan dari Pekanbaru, Riau, sebanyak 6 pcs pada 2018. Pesanan yang lebih besar datang pada tahun yang sama, kali ini dari luar negeri, tepatnya Jamaika, dengan jumlah pesanan 100 pcs.

Kendati terbuat dari batok kelapa, Oni memastikan bra tersebut aman digunakan. Ukurannya hanya tersedia dalam dua pilihan diameter, yaitu 12 sentimeter dan 13 sentimeter. "Orang luar negeri biasanya menggunakannya kala di pantai. Kalau orang Indonesia seringnya untuk asesoris ketika menari," ungkapnya.

Proses pembuatan bra dari batok kelapa tidak terlalu rumit. Batok kelapa dipotong, diamplas hingga halus, kemudian diberi lubang untuk mengikat tali kur filamen. Selain bra, Oni juga memproduksi mangkuk, gelas, piring kecil, dan berbagai kerajinan lainnya. Produk-produknya pernah dipesan konsumen dari Prancis, Inggris, dan Filipina pada 2019.

"Mereka pesan lewat DM instagram. Saya buatkan kemudian kirim menggunakan Pos Indonesia," kata Oni. Pesanan dari luar negeri tersebut mencapai ribuan pcs.

Saat ini, pesanan lebih banyak datang dari dalam negeri. Oni tetap menjaga kualitas produknya dengan memilih batok kelapa tua yang teksturnya kuat dan tebal. Ia sering mencari limbah batok kelapa hingga ke Purworejo, Jawa Tengah, karena teksturnya dinilai lebih bagus. "Untuk membuat mangkok dan gelas membutuhkan batok kelapa yang bagus dan potongannya 60 persen ke atas. Kalau di daerah Kudus mencari batok yang simetris sulit," ucapnya.

Beragam produk yang dihasilkan Oni antara lain mangkuk, gelas, centong, sendok, tas, celengan, relief, lukisan, dan lainnya. Harganya bervariasi, mulai dari Rp2 ribu hingga jutaan rupiah. Terbaru, ia membuat produk permainan tradisional egrang untuk memeriahkan perlombaan 17-an.

Oni bertekad untuk terus berkarya dari limbah batok kelapa. Ia juga ingin berbagi ilmu kepada generasi muda agar mereka kreatif dan mandiri. "Saya akan terus berkarya dari limbah batok kelapa. Selain itu juga menjadi pemateri ke generasi muda agar mereka terus kreatif dan mandiri," imbuhnya.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags