Disambut Rasa Syukur
Respons dari mahasiswa pun langsung terasa. Penuh rasa syukur. Muhammad Haekal Halifah, Ketua Ikatan Pelajar Aceh Semarang (IPAS), menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya. Saat ini, proses pendataan sedang digencarkan agar bantuan tepat sasaran.
“Di Aceh yang sudah terdata 107 mahasiswa. Sumbar ada sekitar 200-an, Sumut 100 lebih,” ujar mahasiswa Fakultas Hukum Undip itu.
Ghazza Al Hafizh Hasbi, mahasiswa asal Sumatera Barat, mengaku sangat terbantu. “Prioritas kami kan melanjutkan pendidikan. Dukungan seperti ini bikin semangat belajar nggak hilang,” ungkapnya.
Perasaan serupa diungkapkan Naswa Salsabila, perwakilan mahasiswa Sumut. Dia merasa diperhatikan, meski mereka bukan warga asli Jawa Tengah. Deklarasi Luthfi sebagai ‘bapak’ rupanya punya makna yang dalam.
Secara simbolik, ini seperti menegaskan prinsip kebersamaan: satu sakit, sakit semua. Jawa Tengah dijadikan rumah bersama. Di sisi lain, secara praktis, janji bantuan yang langsung menyentuh masalah inti uang dan komunikasi menunjukkan respons pemerintahan yang cepat dan empatik. Langkah ini bukan sekadar wacana, tapi penjabaran nyata dari filosofi ‘Ngopeni Nglakoni’. Sebuah ikrar untuk menjaga dan menjalani bersama dalam susah dan senang.
Artikel Terkait
Beruang Kutub Makin Gemuk, 11 Penipu Dieksekusi, dan Pesawat Jatuh di Kolombia
Perawat India dan Dilema Jerman: Antara Kebutuhan dan Birokrasi yang Berbelit
Jaksel Terendam Lagi, Warga Rawajati Dievakuasi dari Genangan 1,5 Meter
Banten Tutup Keran Pemutihan Pajak Kendaraan, Beralih ke Hadiah untuk Warga Taat