Kalau kita lihat ke depan, sektor perbankan nasional tampaknya baru akan benar-benar berbelok arah pada 2026. Titik balik pertumbuhan laba itu, atau yang sering disebut inflection point, diprediksi baru terjadi di tahun tersebut. Meski begitu, rekomendasi overweight untuk sektor ini masih dipertahankan. Alasannya sederhana: prospek pemulihan kredit, terutama dari program-program pemerintah, masih cukup menggoda untuk diabaikan.
Dalam riset terbarunya yang dirilis 26 Januari 2026, Indo Premier Sekuritas membeberkan proyeksi mereka. Pertumbuhan kredit untuk bank-bank besar pada tahun buku 2026 diperkirakan mencapai 9-11 persen. Angka yang cukup sehat, bukan? Pemulihan ini konon didorong oleh dua hal utama: rebound pertumbuhan uang beredar (M2) dan yang tak kalah penting, geliat permintaan kredit dari program pemerintah.
Nah, program yang paling banyak disorot adalah Kredit Desa dan Mitra Pembangunan (KDMP). Program raksasa ini disebut-sebut butuh pembiayaan hingga Rp240 triliun. Bayangkan saja, angka itu setara dengan tambahan kredit 6,3 persen dari total pinjaman industri perbankan! Kontributor utamanya, tentu saja, didominasi oleh tiga bank BUMN besar.
Namun begitu, jalan menuju pemulihan itu tidak sepenuhnya mulus. Ada beberapa hambatan yang berpotensi menghadang. Pertama, inflasi yang masih rendah. Indo Premier mencatat inflasi Desember 2025 hanya 2,9 persen, dan diprediksi sekitar 2,8 persen sepanjang 2026. Kondisi ini membuat pertumbuhan kredit untuk modal kerja jadi agak terbatas.
Kedua, belanja modal korporasi juga diperkirakan menurun. Dalam cakupan riset mereka, capex emiten diproyeksikan turun jadi Rp226,5 triliun di 2026, dari sebelumnya Rp274,3 triliun di 2025. Lonjakan kredit investasi tahun lalu sepertinya sudah menyerap sebagian besar realisasi belanja modal itu.
Dari sisi margin, tekanan masih terasa. Tren penurunan suku bunga, baik global maupun domestik, membuat margin bunga bersih (NIM) bank diperkirakan menyusut sekitar 10-20 basis poin tahun depan. Dampaknya akan lebih terasa pada bank-bank dengan porsi kredit bunga mengambang yang besar, sebut saja Bank Mandiri (BMRI) dan Bank BNI (BBNI).
Artikel Terkait
Pemerintah Pacu Demutualisasi BEI dan Naikkan Free Float, Respons Tekanan Global
IHSG Melesat 1,18%, Sentimen Positif Warnai Perdagangan Pagi
Mundurnya Dirut BEI Disambut Positif, Menkeu: Momen Serok Saham
IHSG Anjlok, Direktur Utama BEI Iman Rachman Mengundurkan Diri