2026: Titik Balik Laba Perbankan Nasional, Tapi Jalan Masih Berliku

- Jumat, 30 Januari 2026 | 12:15 WIB
2026: Titik Balik Laba Perbankan Nasional, Tapi Jalan Masih Berliku

“Di sisi lain, biaya dana diperkirakan tetap tinggi akibat kondisi likuiditas yang ketat,”

begitu catatan analis Indo Premier. Mereka juga mengingatkan adanya risiko di segmen mikro, khususnya untuk Bank BRI (BBRI), jika nantinya ada perubahan kebijakan terkait subsidi atau asuransi KUR. Agak perlu diwaspadai, sih.

Tapi ada kabar baik. Biaya kredit (CoC) diproyeksikan relatif stabil tahun depan. Kualitas aset korporasi pun dinilai masih lebih tangguh dibandingkan segmen konsumer dan UMKM. Buktinya, rasio NPL korporasi di bank-bank besar jauh lebih rendah.

Jadi, bagaimana dengan laba? Indo Premier memproyeksikan pertumbuhan laba bank besar sekitar 5-6 persen di 2026. Angka ini sedikit lebih rendah dari konsensus pasar yang optimis di kisaran 7-10 persen. Tapi jangan salah, valuasi sektor ini dinilai cukup menarik saat ini. Perbankan diperdagangkan di level 1,9 kali PBV dan 10,9 kali P/E, atau sekitar minus satu standar deviasi dari rata-rata 10 tahun. Murah, kalau dilihat dari kacamata historis.

Dengan pertimbangan-pertimbangan tadi, Indo Premier tetap ngotot mempertahankan rekomendasi overweight. Saham unggulan mereka? BBNI dan BMRI. Tapi, investor tetap harus waspada. Risiko utama yang mengintai adalah pelemahan nilai tukar rupiah. Jika rupiah melemah, bisa memicu kenaikan suku bunga acuan dan imbal hasil obligasi, yang ujung-ujungnya bakal mempengaruhi pasar.

Perlu diingat, keputusan jual-beli saham sepenuhnya ada di tangan Anda.


Halaman:

Komentar