Harga emas dunia kembali melemah di awal pekan ini, tepatnya pada perdagangan Senin (16/3/2026). Padahal, dolar AS sempat melemah dan sentimen safe haven sebenarnya belum sepenuhnya hilang. Tapi rupanya, tekanan lain lebih kuat: kekhawatiran bahwa inflasi bakal bertahan lama gara-gara konflik di Timur Tengah, yang berpotensi membuat suku bunga tinggi bertahan lebih lama.
Emas spot tercatat turun 0,30 persen ke level USD5.006,19 per troy ons. Bahkan di awal sesi, harga sempat menyentuh posisi terendah sejak pertengahan Februari lalu. Melemahnya dolar AS dari puncaknya dalam 10 bulan terakhir sebenarnya bisa jadi angin segar, karena emas jadi lebih murah bagi investor yang memegang mata uang lain. Tapi tampaknya, itu belum cukup.
“Dengan harga minyak yang lebih tinggi, inflasi juga meningkat. Jika inflasi benar-benar naik, bank sentral tidak akan semotivasi enam bulan lalu untuk memangkas suku bunga, dan itu menjadi sentimen negatif bagi harga emas,”
Begitu penjelasan Bob Haberkorn, Senior Market Strategist di RJO Futures, kepada Reuters.
Meski begitu, dia sendiri ternyata masih optimis. “Namun, saya masih sangat bullish terhadap emas mengingat kondisi yang terjadi di seluruh dunia. Masih banyak dana yang berada di pinggir pasar menunggu masuk, dan saya masih mengantisipasi harga emas mencapai USD6.000 per ons.”
Logika pasar terhadap emas memang selalu menarik. Aset yang satu ini dikenal sebagai lindung nilai inflasi, tapi di saat yang sama, dia bisa tersandung oleh lingkungan suku bunga tinggi. Alasannya sederhana: ketika suku bunga naik, biaya peluang untuk memegang aset yang tak memberikan imbal hasil seperti emas menjadi lebih besar. Investor bakal berpikir dua kali.
Artikel Terkait
Laba Bersih Triputra Agro Persada Melonjak 19% Jadi Rp3,84 Triliun di 2025
PT Selamat Sempurna (SMSM) Catat Laba Bersih Rp1,13 Triliun di 2025 Didorong Ekspor
IHSG Terpangkas 1,61%, Analis Proyeksi Potensi Koreksi Lanjutan
BRI Salurkan Kredit Rp4 Triliun ke Dua Anak Usaha Golden Energy Mines