Ancaman di Balik Nikel: Kedaulatan dan Lingkungan yang Terkikis di Maluku Utara
Geliat industri nikel di Maluku Utara memang luar biasa. Tapi, di balik kilau logam masa depan itu, ada bayangan gelap yang mengintai. Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah memperingatkan, ekspansi tambang yang masif khususnya di Pulau Obi bukan cuma soal kerusakan alam. Persoalannya lebih dalam: ancaman terhadap kedaulatan negara.
Amir melihat, dominasi perusahaan asing, terutama dari China, menciptakan kerentanan baru. “Kita harus jujur bahwa investasi itu membawa risiko,” tegasnya.
“Ketergantungan jangka panjang pada teknologi, modal, dan hilirisasi yang dikendalikan asing adalah bentuk kerentanan.”
Pulau Obi kini jadi jantung industri nikel nasional. Dua raksasa beroperasi di sana: Harita Group dari Indonesia dan Lygend Resources & Technology asal China. Mereka memasok bahan baku untuk baterai kendaraan listrik dunia. Namun, kemakmuran industri itu punya harga. Di pesisir, air laut tak lagi sebening dulu. Sedimentasi berat mencemari perairan. Hasil tangkapan nelayan tulang punggung warga lokal merosot drastis. Hutan-hutan pun berganti menjadi kolam tambang dan pabrik.
Menurut Amir, mayoritas smelter dan tambang di wilayah itu berkaitan dengan investasi China. Dan itu bukan sekadar urusan bisnis belaka. Ia menyoroti doktrin negara asal perusahaan tersebut, di mana korporasi besar kerap menjadi perpanjangan tangan kepentingan nasional.
“Dalam doktrin nasional mereka, perusahaan besar adalah bagian dari kepanjangan tangan negara. Mereka menguasai wilayah, infrastruktur, hingga jaringan logistik. Itu bukan sekadar bisnis biasa,” ujarnya pada Senin (1/12/2025).
Artikel Terkait
Roy Suryo Tampil Mewah di Polda, Polemik Ijazah Jokowi Kembali Menghangat
Di Tengah Duka, Ibrahim Raih 94 Persen di Ujian SMA Gaza
Kapal Rumah Sakit Nusa Waluya II: Jawaban Bagi Ribuan Warga Terpencil Raja Ampat
Tes Kemampuan Akademik 2026: Bukan Penentu Kelulusan, tapi Peta Mutu Pendidikan