Air sering dianggap sebagai obat mujarab. Haus? Minum air. Lelah? Minum air. Ingin kulit cerah? Minum air lagi. Tapi, tahukah Anda bahwa terlalu banyak mengonsumsi air justru bisa membebani ginjal? Risikonya nyata, meski jarang dibicarakan.
Laporan Hindustan Times awal Maret lalu mengutip penjelasan Dr. Udit Gupta, seorang konsultan nefrologi. Ia membeberkan bahwa saran klasik "minum lebih banyak air" ternyata tak sesederhana itu. Ada banyak aspek yang perlu dipertimbangkan.
Intinya, kita harus paham betul berapa banyak cairan yang tubuh kita perlukan. Kalau tidak, bukannya sehat, malah bisa kena overhidrasi atau kelebihan cairan. Kondisi ini sama sekali nggak baik buat kesehatan.
Menurut Dr. Gupta, kebutuhan cairan itu nggak ada patokan baku yang cocok untuk semua orang. Banyak faktor yang mempengaruhinya. Berat badan, cuaca di tempat tinggal, seberapa aktif kita bergerak, dan kondisi kesehatan secara umum semuanya berperan.
Ambil contoh, seorang anak yang main sepak bola di lapangan terbuka saat terik pasti butuh minum lebih banyak ketimbang seorang karyawan yang seharian duduk di ruangan ber-AC. Begitu juga dengan orang yang sehari-hari banyak makan buah dan sayur berair; mereka mungkin nggak perlu minum air putih sebanyak orang lain.
Jadi, fokusnya bukan pada menghitung gelas, melainkan memastikan tubuh memproduksi urine dalam jumlah yang sehat. Urine inilah yang membantu membuang racun dari tubuh kita.
Nah, di sisi lain, Dr. Gupta juga mengingatkan bahaya kelebihan air. Asupan air berlebihan bisa mengencerkan kadar natrium dalam darah, kondisi yang disebut hiponatremia. Ini berbahaya. Overhidrasi adalah masalah serius yang justru bisa merusak ginjal.
Artikel Terkait
Gubernur Jateng Tinjau Gerakan Pangan Murah di Grobogan Jelang Lebaran 2026
Menko Pangan Tegaskan Impor Beras AS 1.000 Ton Hanya untuk Kebutuhan Khusus
Dua Pekerja Gondola Terjebak Badai di Surabaya, Satu Tewas
Wakapolda Riau Serukan Sinergi Seluruh Elemen Jaga Keamanan Ramadan