Guru Besar Unair Sorot Runtuhnya Kepercayaan Akademis, Desak Jokowi Buka Ijazah

- Jumat, 30 Januari 2026 | 12:25 WIB
Guru Besar Unair Sorot Runtuhnya Kepercayaan Akademis, Desak Jokowi Buka Ijazah
Artikel - Kepercayaan Akademisi pada Jokowi

Kepercayaan Itu Runtuh: Seruan Guru Besar Unair untuk Buka Ijazah Jokowi

JAKARTA Pernyataan keras datang dari kalangan akademisi. Kali ini, dari Guru Besar Universitas Airlangga, Profesor Henri Subiakto. Intinya sederhana tapi berat: kepercayaan banyak intelektual terhadap Presiden Joko Widodo sudah ambruk.

Dulu, cerita Henri, keyakinannya hampir sempurna. “Saya percaya 99 persen foto wisuda itu benar-benar Pak Jokowi. Wajahnya sangat mirip dan meyakinkan,” ujarnya pada suatu Jumat akhir Januari lalu. Saat itu, hampir tak ada keraguan di benaknya.

Namun begitu, keyakinan itu tak bertahan selamanya. Perlahan-lahan, tapi pasti, fondasinya retak. Setelah mengamati dinamika politik yang berliku dan mendengar berbagai pernyataan yang menurutnya plin-plan, Henri merasa seperti dibangunkan dari mimpi.

“Setelah proses panjang, ketahuan tokoh kita ini sering dengan entengnya bicara berubah-ubah. Bicara tidak jujur tanpa beban. Ngomong inkonsisten tanpa malu. Berpolitik tanpa etika, tanpa rasa bersalah,” tegasnya.

Ia menggambarkan perasaan ini sebagai sesuatu yang tak terbayangkan sebelumnya. Banyak akademisi, termasuk dirinya, yang awalnya menaruh harapan besar, kini merasa tertipu. “Kami seperti mimpi di siang bolong,” katanya. Hal-hal yang dulu dianggap mustahil, ternyata terjadi di depan mata. Dan itu mengubah segalanya.

Kekecewaan ini, menurut Henri, bukan cuma miliknya sendiri. Ia mengaku berbicara atas nama sejumlah koleganya para akademisi yang dulu berada di barisan pendukung, yang dulu memberikan harapan. Sekarang? Sikap mereka berbalik seratus delapan puluh derajat.

“Karena itu kami, dengan beberapa akademisi yang dulunya percaya dan berharap pada tokoh ini, kini berubah total. Sekarang kami pesimis, kritis, dan tidak mudah percaya pada hal-hal yang dianggap biasa,” ujarnya.

Di sisi lain, banyak peristiwa yang menurut logika sulit dicerna, justru menjadi kenyataan. “Yang kami saksikan sebenarnya tak masuk akal, tapi ternyata nyata,” imbuhnya dengan nada getir. Situasi inilah yang memicu sikap kritis yang sekarang ia pegang teguh.

Lalu, bagaimana cara mengembalikan kepercayaan yang sudah pecah itu? Bagi Henri, jawabannya terletak pada transparansi. Terutama terkait polemik ijazah Presiden yang tak kunjung usai. Ia bersikeras, satu-satunya jalan keluar adalah membuka dokumen tersebut untuk dilihat publik.

“Kalau memang foto-foto dan ijazah itu betul, biarkan konsistensi terjadi. Buka saja ijazah Pak Jokowi di depan publik. Biarkan rakyat melihat dan para ahli independen mengujinya,” katanya.

Permintaan ini, klaimnya, bukan datang dari ruang hampa. Ini lahir dari pengalaman berulang merasa dibohongi. “Mohon maaf, karena sudah berkali-kali merasa dibohongi, saya dan banyak teman sudah tidak bisa mempercayai lagi tanpa bukti-bukti komplit yang diteliti secara ilmiah oleh lembaga independen,” jelasnya.

Sebagai penutup, Henri menyebutkan soal foto wisuda Fakultas Kehutanan UGM angkatan 1980. Foto yang dimaksud, katanya, bukan diambil pada wisuda November 1985 di Balairung.

“Alhamdulillah ternyata foto yg lbh jelas gambarnya masih dimiliki teman2 pak Jokowi Fakultas Kehutanan UGM angkatan Tahun 1980, yang wisuda bukan November 1985 di Balaiirung. Jelas ya yg di blkg no 3 dr kanan skrg jd presiden RI ke 7,” katanya.

Pernyataannya ini tentu saja menambah daftar panjang pertanyaan. Tapi satu hal yang jelas: suara kritis dari kampus semakin nyaring. Dan mereka meminta jawaban yang lebih dari sekadar kata-kata.


[Gambar terkait: Foto wisuda Fakultas Kehutanan UGM angkatan 1980]

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar