Dia ingat betul, rumahnya di Kampung Dalam, Karang Baru, mulai kebanjiran pada Rabu petang, 26 November. Air datang perlahan, lalu tiba-tiba menjadi sangat ganas.
Wahyu bercerita, warga langsung berhamburan. Mereka memilih mengungsi ke Kantor Komite Peralihan Aceh (KPA) yang dianggap lebih aman. Tapi siapa sangka, dalam hitungan menit saja, ketinggian air terus bertambah dengan kecepatan yang menakutkan. Perkampungan mereka pun tersapu bersih.
Kini, yang tersisa adalah lumpur, puing, dan kenangan akan rumah yang telah hilang. Perjuangan mereka belum berakhir.
Artikel Terkait
Operasi SAR Tutup, Seluruh Korban Kecelakaan ATR di Bulusaraung Berhasil Ditemukan
Praja IPDN Bantu Bersihkan 19 Gedung Pemerintah di Aceh Tamiang Pascabencana
Manajer Sawit di Pandeglang Diduga Kunci Korban di Ruangan untuk Pelecehan
LPDP 2026 Buka Pendaftaran, Fokus pada Dampak dan Industri Strategis