Gelombang Hitam dan 900 Nyawa: Kisah Pilu di Balik Banjir Bandang Sumatra

- Minggu, 07 Desember 2025 | 21:35 WIB
Gelombang Hitam dan 900 Nyawa: Kisah Pilu di Balik Banjir Bandang Sumatra

Hujan tak henti mengguyur. Bagi warga di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat akhir November lalu, itu bukan sekadar hujan biasa. Itu adalah awal dari perjuangan untuk sekadar bertahan hidup. Ada yang lari tunggang-langgang menyelamatkan diri ke tengah hutan yang gelap. Yang lain, dengan langkah lelah, berjalan kaki jauh hingga ke provinsi sebelah, meninggalkan segala yang mereka punya.

Bencana ini, menurut sejumlah laporan, dipicu oleh hujan super deras yang tak biasa. Siklon tropis Senyar pada 25-27 November 2025 disebut-sebut sebagai biang keroknya. Air bah yang datang bukan air bening ia adalah gelombang hitam pekat yang membawa gelondongan kayu, bongkahan batu, dan lumpur yang menghantam tanpa ampun. Permukiman warga luluh lantak seketika.

Angkanya sungguh memilukan. Data terbaru dari BNPB hari ini menyebut korban tewas di tiga provinsi itu sudah lebih dari 900 jiwa. Lebih dari 390 orang lainnya masih dinyatakan hilang, entah di mana. Belum lagi ribuan korban luka-luka, mencapai 5 ribu orang. Sementara itu, pengungsian massal terjadi; sekitar 800 ribu orang terpaksa meninggalkan rumah mereka.

Di tengah semua kisah pilu itu, ada cerita tentang bagaimana warga menyelamatkan diri. Seperti yang dialami Wahyu Putra Pratama, korban selamat dari Aceh Tamiang.

Dia ingat betul, rumahnya di Kampung Dalam, Karang Baru, mulai kebanjiran pada Rabu petang, 26 November. Air datang perlahan, lalu tiba-tiba menjadi sangat ganas.

"Air naik cepat sekali, setinggi kabel listrik, sekitar 3 meter. Rumah sudah hancur semua,"

Wahyu bercerita, warga langsung berhamburan. Mereka memilih mengungsi ke Kantor Komite Peralihan Aceh (KPA) yang dianggap lebih aman. Tapi siapa sangka, dalam hitungan menit saja, ketinggian air terus bertambah dengan kecepatan yang menakutkan. Perkampungan mereka pun tersapu bersih.

Kini, yang tersisa adalah lumpur, puing, dan kenangan akan rumah yang telah hilang. Perjuangan mereka belum berakhir.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar