"Memang yang marah-marah itu agak 'gangguan', suka ngelamun," tutur Jajang, merujuk pada kondisi kejiwaan pria tersebut. "Diviralkanlah oleh adiknya ke medsos."
Lokasi kejadiannya di Desa Sukajadi. Tapi saat petugas mendatangi lokasi, keluarga tersebut sudah pindah rumah ke Desa Pasir Eurih. Pihak kepolisian pun tetap melakukan pengecekan dan pendampingan.
"Kemarin saya ke sana, terus tadi pagi dikasih obat biar nggak marah-marah sama Puskesmas," imbuhnya.
Upaya untuk menangani kondisi pria itu sebenarnya sudah beberapa kali dilakukan. Jajang menyebut, sudah tiga kali tawaran untuk merawatnya di Rumah Sakit Jiwa diajukan. Sayangnya, keluarga selalu menolak.
Alasannya berubah-ubah. "Pertama memang nggak punya BPJS, terus nggak punya biaya, padahal itu sudah ditanggung Dinsos," ucap Jajang. "Terakhir tadi pagi mau dibawa, tapi karena dikasih obat nggak usah katanya."
Kasus ini pun akhirnya lebih menyerupai drama keluarga yang terlambat viral, ketimbang sebuah insiden berbahaya yang baru terjadi. Di balik konten yang menyedot perhatian, ternyata ada kisah panjang penanganan kesehatan jiwa yang berujung pada jalan buntu.
Artikel Terkait
AHY Tinjau Pemulihan Sekolah di Aceh Tamiang, Soroti Pentingnya Ruang Pulih Trauma
Trump Sebut Pasukan Inggris di Belakang Garis Depan, London Geram
Kemendagri Tinjau Ulang Aturan Truk AMDK Gubernur Jabar
Banjir Bandang Sapu Tiga Kabupaten di Lereng Slamet, Korban Jiwa dan Wisata Guci Rusak