Kamis sore itu, 27 November 2025, cuaca memang sudah tak bersahabat. Hujan deras mengguyur Nagari Salareh Aia Timur di Sumatera Barat. Susi Susanti, 43 tahun, baru saja sampai di rumah usai dari SMP Negeri 3 Selareh Aia. Dia sedang santai di ruang tengah bersama dua anaknya. Rencananya sih, sebentar lagi mau ke pasar buat belanja kebutuhan dagangan kantin sekolahnya. Tapi hujan yang tak kunjung reda membuatnya urung berangkat.
Dia memutuskan untuk istirahat dulu. Namun, baru sebentar bersantai, tiba-tiba terdengar suara gemuruh yang mencekam. Suaranya begitu keras, menggelegar, seolah-olah bumi mau runtuh.
"Kami kaget dengar suara gemuruh tuh, tak sempat ambil payung pun," ucap Susi.
Seketika, gelap. Listrik padam total. Suasana yang tadinya ramah berubah jadi sunyi dan menakutkan dalam sekejap.
"Langsung putus listrik sore itu," katanya, mengenang.
Di tengah kegelapan dan derasnya hujan, teriakan warga mulai terdengar memecah kesunyian. Mereka berteriak-teriak memperingatkan bahaya. Susi pun langsung paham. Dengan panik, dia menggandeng anak-anaknya dan berlari keluar rumah, menghindari ancaman yang datang tiba-tiba.
"Kami keluar. Lalu kami dengar ramai orang teriak-teriak 'Galodoh....galodoh... galodoh'. Kami lari ke sekolah menyelamatkan diri," imbuhnya, menceritakan bagaimana mereka menyusuri jalan yang sudah mulai digenangi air menuju tempat yang lebih aman.
Artikel Terkait
Rekor Curah Hujan di Jakarta, Gubernur Pramono: Tertinggi Selama Saya Menjabat
Putin Dapat Tawaran Istimewa: Duduk di Dewan Perdamaian Gaza Gagasan Trump
Pin Prioritas LRT Jabodebek: Solusi Mudah Bagi Penumpang Berkebutuhan Khusus
Trump Kembali Ngotot: Dunia Tak Aman Tanpa Greenland di Bawah Kendali AS