Dedikasi Bripka Rikha: Dari Pengantin Pesanan hingga Dukun Cabul, Perjuangan 17 Tahun di Kalbar

- Rabu, 03 Desember 2025 | 12:55 WIB
Dedikasi Bripka Rikha: Dari Pengantin Pesanan hingga Dukun Cabul, Perjuangan 17 Tahun di Kalbar

Sudah sejak 2008, Bripka Rikha Tri Sartika mendedikasikan dirinya di Kalimantan Barat. Tugasnya berat: menangani dan membongkar kasus-kasus kekerasan yang menimpa perempuan dan anak. Belasan tahun komitmennya tak goyah untuk melindungi mereka yang rentan.

Kini, atas kiprah panjang itu, namanya diusulkan oleh Ditreskrimum Polda Kalbar untuk Hoegeng Corner 2025. Saat ini, Rikha bertugas sebagai Bintara Unit 1 Subdit IV Renakta di sana.

Lebih dari seratus kasus telah ia sentuh, mulai dari penganiayaan, pencabulan, hingga pemerkosaan. Dari sekian banyak, dua kasus meninggalkan kesan mendalam baginya: kasus TPPO dengan modus pengantin pesanan dan kasus dukun cabul pengganda uang.

Mari kita mulai dari yang pertama. Kasus TPPO modus pengantin pesanan ini terjadi di Kalbar pada 2023. Menurut Rikha, sindikat ini menyasar perempuan lokal, tak sedikit yang masih di bawah umur. Modusnya, mereka dijanjikan dinikahi warga Tiongkok, lalu dibawa ke China. Tapi kenyataannya pahit: di sana mereka justru dijual.

“Itu kan warga negara Tiongkok, mereka berpikir begini kalo menikah dengan sesama warga Tiongkok maharnya mahal, kalau orang Indonesia murah, menurut mereka,”

kata Rikha kepada detikcom, Kamis (31/10/2025).

Dari pola pikir seperti itu, muncullah pihak-pihak yang memanfaatkan. Mereka bertindak sebagai Mak Comblang, membangun jaringan di Kalbar untuk mencari calon korban. Rikha menyebut, para pelaku ini bahkan sudah memetakan target mereka. Biasanya, mereka adalah perempuan muda dari keluarga kurang mampu di daerah.

“Kebanyakan korbannya itu orang daerah yang mungkin kurang pengetahuan, jadi dikasih mahar Rp 30 juta. Si Mak Comblangnya (dari Indonesia) itu (dapat) lebih dari Rp 30 juta, kisarannya itu Rp 50 juta sampai Rp 70 juta,”

ujarnya.

Setelah uang mahar disetujui, proses pengurusan dokumen pun berjalan. Korban kemudian diterbangkan ke Tiongkok. Tujuannya? Bukan kehidupan rumah tangga yang bahagia.

“Kebanyakan sih itu hanya modus saja... paling 30 persen yang bener dinikahi, tapi 70 persen itu dijual dijadikan pelacur di Tiongkok,”

tutur Rikha dengan nada prihatin.

Setelah mendapat laporan, Rikha dan tim bergerak. Penyidikan mengungkap ini adalah sindikat terstruktur. Masing-masing punya peran spesifik: ada yang urus dokumen, siapkan tempat, hingga yang turun ke pedalaman merekrut korban.

Total, polisi meringkus lima pelaku warga Indonesia. Korban yang berhasil diidentifikasi ada enam orang. Untuk pelaku utamanya, sang Mak Comblang, vonis sudah dijatuhkan: 10 tahun penjara.

Kasus kedua tak kalah mengerikan: dukun cabul pengganda uang. Kasus ini terbongkar pada 2021. Pelaku menargetkan orang tua yang sedang kalap butuh uang dan punya anak gadis. Iming-imingnya, uang bisa digandakan sepuluh kali lipat, dengan syarat ritual melibatkan anak perawan mereka.

“Dengan orang yang mungkin pengetahuannya kurang ibu-ibu bapak-bapak ini kan, tanpa pikir panjang korbanin anaknya,”

ucap Rikha.

Kasus ini terbongkar berani korban yang bersuara. Bukan ke orang tua, melainkan langsung menghubungi KPPAD Kalbar via Facebook.

“Korban ini menghubungi pihak KPPAD... ‘saya minta tolong bu saya disetubuhi’. Ngehubunginya itu pake Facebook. Terus KPPAD komunikasi ke saya,”

jelasnya.

Rikha pun bergerak cepat. Korban yang sedang disekolahkan pelaku di Pontianak dijemput dan dibawa untuk dimintai keterangan. Fakta yang terungkap sungguh memilukan.

“Ternyata dia (korban) itu disetubuhi lebih dari 20 kali.”

Penyelidikan dilanjutkan. Kecurigaan Rikha bahwa korban tak hanya satu ternyata benar. Jaringannya merambah hingga Sampit, Kalimantan Tengah. Total, ada tujuh anak di bawah umur yang menjadi korban. Enam lainnya diam karena diancam dibunuh.

Pelaku akhirnya dihukum 13 tahun penjara. Atas kerja kerasnya, Rikha mendapat sejumlah penghargaan. Tapi baginya, itu bukan akhir.

“Alhamdulillah saya senang sekali... Saya merasa bangga dan akan terus memperjuangkan hak-hak perempuan dan anak. Penghargaan itu buat saya semakin semangat bekerja,”

imbuhnya, menutup pembicaraan.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar