Hujan tak henti-hentinya mengguyur kawasan Puncak, Bogor, Senin sore kemarin. Bukan cuma deras, anginnya juga mengamuk. Kombinasi alam yang ganas itu berakhir dengan bencana: tanah di Megamendung tiba-tiba amblas.
Akibatnya, satu rumah di bagian depan langsung ambruk, terseret longsor. Dua rumah tetangganya pun ikut terdampak, rusak parah. Kejadiannya sekitar pukul empat sore, saat hujan sedang mencapai puncaknya.
Menurut sejumlah saksi, suara gemuruh tanah longsor itu terdengar jelas, diikuti oleh keruntuhan bangunan. Seketika, kepanikan melanda warga sekitar.
Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bogor, M Adam Hamdani, mengonfirmasi kejadian ini. "Hujannya sangat deras, anginnya kencang sekali. Tiang-tiang beton penyangga rumah akhirnya amblas dan patah," ujarnya kepada wartawan, Senin malam.
"Tiga unit rumah warga rusak. Untuk sekarang, kami sudah lakukan kaji cepat dan para penghuni sudah mengungsi ke tempat yang lebih aman," lanjut Adam.
Namun begitu, situasi di lokasi masih sangat berbahaya. "Barang-barang milik korban belum bisa dievakuasi. Tanahnya masih labil, risikonya tinggi," jelasnya.
Memang, lokasinya sendiri sudah rawan. Rumah-rumah itu berdiri di tebingan yang curam. Ditambah beban bangunan dan tiang penyangga yang berat, tanah pun kolaps saat digempur hujan lebat tadi. Kondisinya masih sangat riskan.
Akibat musibah ini, sebelas orang dari tiga keluarga terpaksa meninggalkan rumah mereka. Mereka diungsikan untuk sementara waktu, menunggu kondisi benar-benar stabil.
Bencana di Puncak bukan satu-satunya. Di tempat lain, tepatnya di Tajurhalang, Bogor, hujan dan angin kencang juga membuat sebuah pohon besar tumbang. Pohon itu menimpa bangunan Pondok Pesantren Asahabah Alkiram Al Islami.
Adam Hamdani juga menanggapi kejadian ini. "Ya, lagi-lagi karena hujan deras dan angin kencang. Pohon tumbang dan menimpa bangunan pesantren," katanya.
"Untungnya, pohon itu tidak menghalangi jalan. Tapi evakuasi baru bisa dilakukan besok pagi. Kondisi sekarang tidak memungkinkan," imbuhnya.
Dua peristiwa dalam satu hari itu menyisakan pekerjaan rumah. Bukan hanya untuk mengevakuasi, tapi juga mengingatkan betapa rawan kawasan ini saat musim hujan tiba.
Artikel Terkait
Polres Sragen Masih Selidiki Pembunuhan Bocah 11 Tahun di Rumah Sendiri
Polisi Masih Dalami Petunjuk di TKP Pembunuhan Bocah 11 Tahun di Sragen, Pelaku Belum Terungkap
Bung Harpa Soroti Muhammad Isfandyar Abdillah sebagai Kuda Hitam Timnas U-19 Usai Bawa Indonesia Juara Grup A Piala AFF U-19
Pencuri Sawit 1.620 Kg Tertidur di Samping Tumpukan Hasil Curian, Petugas Keamanan Temukan saat Patroli