Kabupaten Agam juga tak ketinggalan. Lebih dari 2,3 ton bantuan diterjunkan ke dua titik, Tiku dan Sungai Puar. Makanan bayi, sembako, hingga selimut dibawa dengan susah payah melalui udara. Semuanya diangkut oleh armada TNI AU, yang terus bolak-balik sepanjang hari.
Data pengungsian yang terkumpul sementara cukup memprihatinkan. Di Solok saja, hampir 4 ribu jiwa harus mengungsi. Sementara di Pasaman Barat, angkanya jauh lebih besar: sekitar 58 ribu jiwa terdampak, dengan ribuan di antaranya mengungsi. Untuk Agam, pendataan di pos-pos pengungsian masih terus berlangsung hingga berita ini diturunkan.
Menurut sejumlah saksi di lapangan, upaya distribusi kini dijalankan lewat tiga front: darat, laut, dan udara. Namun begitu, fokus utama saat ini adalah membuka jalan darat yang tertutup material longsor. Alat-alat berat sudah dikerahkan. Harapannya, begitu akses darat terbuka, pengiriman bantuan bisa lebih efektif dan menjangkau lebih banyak orang.
Nuansa naratif: Suasana di lokasi pengungsian terasa campur aduk antara haru dan harapan. Setiap kali helikopter mendarat, kerumunan warga tampak antusias menyambut. Meski lelah dan cemas, bantuan yang turun dari langit itu setidaknya memberi secercah kepastian bahwa mereka tidak dilupakan.
Artikel Terkait
Banjir Pandeglang Surut, Warga Keluhkan Krisis Logistik dan Air Bersih
Kominfo Soroti Akar Masalah Keamanan Siber: Sistem Tua dan Kelalaian Manusia
MKGR Resmi Umumkan Susunan Baru, 250 Pengurus Siap Kawal Agenda Pemerintah
Tokyo Lumpuh: Ratusan Ribu Komuter Terjebak Akibat Padamnya Jalur Kereta Utama