Suasana di luar kediaman Presiden Isaac Herzog di Tel Aviv mendadak panas Minggu malam lalu. Ratusan warga Israel turun ke jalan, menyalurkan amarah mereka lewat unjuk rasa. Pemicunya? Permintaan pengampunan penuh yang baru saja diajukan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu kepada sang presiden.
Menariknya, Netanyahu meminta maaf tapi tak mengaku salah. Ia ingin dibebaskan dari semua tuntutan korupsi yang membelitnya, namun tanpa sepatah kata penyesalan. Langkah ini, seperti dilaporkan Al Jazeera dan TRT World, langsung memantik gelombang protes.
Di tengah kerumunan, terlihat tumpukan pisang yang disusun tinggi. Di atasnya, poster bertuliskan "Pengampunan". Itulah sindiran tajam mereka. Slogan "Pengampunan = Republik Pisang" bergema, menggambarkan betapa mereka menganggap permintaan Netanyahu itu akan mengubah Israel jadi negara lelucon.
“Dia meminta agar persidangannya dibatalkan sepenuhnya tanpa bertanggung jawab, tanpa membayar harga untuk bagaimana dia menghancurkan negara ini,” ujar Shikma Bressler, salah satu aktivis antipemerintah yang vokal.
“Rakyat Israel memahami apa yang dipertaruhkan, dan ini benar-benar menyangkut masa depan negara kita,” tambahnya.
Naama Lazimi, anggota parlemen dari oposisi, juga terlihat bergabung dengan puluhan aktivis. Mereka bersikeras Herzog harus menolak mentah-mentah permohonan itu. Sorotan juga tertuju pada seorang demonstran yang mengenakan topeng Netanyahu dan baju tahanan oranye lambang nyata dari sidang korupsi yang sudah berjalan lima tahun lamanya.
Spanduk-spanduk kecaman terbentang. Teriakan "Anda adalah pemimpin; Anda yang bersalah!" memecah udara. Bagi mereka, Netanyahu adalah sumber krisis politik yang berkepanjangan.
Memang, aturan mainnya jelas. Di Israel, pengampunan biasanya baru dipertimbangkan setelah proses hukum tuntas dan terdakwa dinyatakan bersalah. Permintaan Netanyahu yang datang di tengah persidangan ini dianggap melompati prosedur. Tak heran, reaksi keras terutama datang dari kubu oposisi.
Netanyahu sendiri adalah perdana menteri terlama Israel. Selama lima tahun terakhir, ia harus menghadapi tiga kasus korupsi terpisah, mulai dari penyuapan, penipuan, hingga pelanggaran kepercayaan. Sidangnya masih berlangsung, tapi permintaan pengampunannya sudah diajukan. Langkah yang, bagi para demonstran, adalah pukulan bagi sistem hukum mereka.
Malam itu, di depan rumah Herzog, pesan mereka jelas: jangan biarkan permintaan ini berlalu begitu saja.
Artikel Terkait
Polisi Sita 80 Gram Kokain dan Tangkap Dua Tersangka di Kemayoran
YouTube Patuh pada PP Tunas, Batasi Aksen Pengguna di Bawah 16 Tahun
Dua Mahasiswi Unsoed Laporkan Rekan ke Polisi Diduga Pelaku Kekerasan Seksual
Anggota DPR Usulkan Transaksi Batu Bara DMO Pakai Rupiah untuk Kurangi Risiko Negara