Logikanya sederhana. Dengan Kopdes yang kuat, perputaran uang di desa akan lebih besar. Transaksi antar warga pun bisa ditingkatkan lewat teknologi. Dan ketika ekonomi desa bergerak kencang, dampaknya akan terasa hingga tingkat nasional.
"Mudah-mudahan dengan pertumbuhan ekonomi yang ada di desa-desa secara agregat akan bisa menaikkan pertumbuhan ekonomi secara nasional, seperti yang Presiden ini kan bisa mencapai angka 8 persen,"
Ia lalu menggambarkan problem nyata di lapangan. Ambil contoh saat musim panen padi. Petani masih mengandalkan matahari, menjemur gabah di pinggir jalan. Cara tradisional ini sering berujung pada kualitas padi yang kurang bagus dan harga jual yang anjlok.
Belum lagi soal penyimpanan. Minimnya fasilitas cold storage untuk buah, sayur, dan hasil tangkapan nelayan membuat kualitas produk cepat turun sebelum sampai ke pasar. Ini jelas merugikan.
Namun begitu, Ferry tetap optimis. Dengan kerjasama yang solid, ia yakin masalah-masalah seperti ini bisa diatasi dalam satu atau dua tahun ke depan. Pengembangan teknologi menjadi harapan untuk menjaga kualitas hasil bumi masyarakat.
Artikel Terkait
Rumah Terduga Bandar Narkoba Digeruduk Massa, Kericuhan Keempat Terjadi di Rohil
Gagalnya Perundingan AS-Iran Dorong Harga Minyak Tembus US$100, Saham Migas RI Menguat
Foton eMiler, Truk Listrik dengan Kabin Lapang dan Akselerasi Halus, Siap Operasi di Indonesia
Dolar AS Melonjak ke Level Tertinggi Seminggu Usai Trump Perintahkan Blokade Selat Hormuz