Pemicu Kekerasan di Jakarta: Dari Tekanan Ekonomi hingga Pola Asuh yang Ambruk

- Senin, 24 November 2025 | 12:40 WIB
Pemicu Kekerasan di Jakarta: Dari Tekanan Ekonomi hingga Pola Asuh yang Ambruk
Faktor Pemicu Kekerasan di Ibu Kota

Kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan di Jakarta ternyata punya banyak pemicu. Pemerintah Provinsi DKI baru-baru ini membeberkan sejumlah faktor yang membuat angka ini terus merangkak naik. Mulai dari urusan ekonomi yang seret, cara mengasuh anak yang amburadul, sampai pengaruh buruk gadget.

Menurut Chico Hakim, Staf Khusus Gubernur DKI Bidang Komunikasi Publik, kehidupan di kota besar seperti Jakarta memang sarat tekanan. Kemacetan yang bikin frustrasi, biaya hidup yang mencekik, plus struktur keluarga yang berubah semua itu memperburuk situasi.

“Tekanan ekonomi keluarga masih menjadi pemicu terbesar. Pengangguran, biaya hidup, dan relasi keluarga yang tidak stabil sering berujung konflik rumah tangga, dan perempuan serta anak menjadi korban utamanya,”

ujar Chico dalam keterangannya, Senin (24/11/2025).

Di sisi lain, pola asuh juga jadi persoalan serius. Banyak orang tua yang kewalahan membagi waktu antara kerja dan urusan rumah. Mereka kerap tak punya cukup bekal tentang cara mendidik anak dengan pendekatan yang positif. Alhasil, risiko kekerasan baik secara emosional maupun fisik pun meningkat. Anak-anak yang merasa terabaikan akhirnya mencari pelarian di luar, yang belum tentu aman.

Belum lagi soal gadget. Dunia digital memang membawa dampak ganda. Di satu sisi memudahkan, tapi di sisi lain jadi sumber masalah baru. Paparan konten kekerasan, perundungan siber, sampai interaksi tidak sehat di media sosial bisa memengaruhi perilaku, terutama di kalangan remaja.

“Urbanisasi membuat anak semakin bergantung pada gadget. Sayangnya, ini juga membuka ruang kekerasan baru, termasuk yang bermula di dunia maya dan berlanjut secara fisik,”

ungkap Chico lagi.

Lingkungan sosial yang dingin dan acuh tak acuh turut memperparah keadaan. Dukungan dari tetangga nyaris tidak ada, relasi kuasa di sekolah masih kuat, dan korban sering merasa terisolasi terutama di kawasan padat penduduk. Perempuan muda juga menghadapi beban ganda: norma patriarki yang masih kental, ketimpangan gender, serta praktik pernikahan dini yang jadi pemicu kekerasan secara struktural.

Yang miris, berdasarkan survei nasional 2025, sekitar 70% korban memilih untuk diam. Mereka takut dapat stigma, khawatir dilaporkan malah berbalas masalah.

“Pencegahan harus dimulai dari keluarga, edukasi itu kunci,”

tegas Chico menutup penjelasannya.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar