Kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan di Jakarta ternyata punya banyak pemicu. Pemerintah Provinsi DKI baru-baru ini membeberkan sejumlah faktor yang membuat angka ini terus merangkak naik. Mulai dari urusan ekonomi yang seret, cara mengasuh anak yang amburadul, sampai pengaruh buruk gadget.
Menurut Chico Hakim, Staf Khusus Gubernur DKI Bidang Komunikasi Publik, kehidupan di kota besar seperti Jakarta memang sarat tekanan. Kemacetan yang bikin frustrasi, biaya hidup yang mencekik, plus struktur keluarga yang berubah semua itu memperburuk situasi.
“Tekanan ekonomi keluarga masih menjadi pemicu terbesar. Pengangguran, biaya hidup, dan relasi keluarga yang tidak stabil sering berujung konflik rumah tangga, dan perempuan serta anak menjadi korban utamanya,”
ujar Chico dalam keterangannya, Senin (24/11/2025).
Di sisi lain, pola asuh juga jadi persoalan serius. Banyak orang tua yang kewalahan membagi waktu antara kerja dan urusan rumah. Mereka kerap tak punya cukup bekal tentang cara mendidik anak dengan pendekatan yang positif. Alhasil, risiko kekerasan baik secara emosional maupun fisik pun meningkat. Anak-anak yang merasa terabaikan akhirnya mencari pelarian di luar, yang belum tentu aman.
Belum lagi soal gadget. Dunia digital memang membawa dampak ganda. Di satu sisi memudahkan, tapi di sisi lain jadi sumber masalah baru. Paparan konten kekerasan, perundungan siber, sampai interaksi tidak sehat di media sosial bisa memengaruhi perilaku, terutama di kalangan remaja.
Artikel Terkait
Program Beasiswa S1 Guru 2026: Pengalaman Mengajar Dikonversi Jadi SKS
DPR dan Pemerintah Gelar Rapat Lanjutan untuk Pemulihan Aceh
KPK Amankan Delapan Orang di Kantor Pajak Jakut Terkait Dugaan Suap Pengurangan Pajak
KPK Gelar OTT di Kantor Pajak Jakarta Utara, Pegawai dan Wajib Pajak Diamankan