Warga Pronojiwo Bertahan di Pengungsian, Ancaman Lahar Dingin Masih Membayangi

- Minggu, 23 November 2025 | 02:50 WIB
Warga Pronojiwo Bertahan di Pengungsian, Ancaman Lahar Dingin Masih Membayangi

Kabut tipis masih menyelimuti Desa Supiturang di Kecamatan Pronojiwo, Lumajang. Pasca-erupsi Gunung Semeru, suasana terasa hening, namun sigap. Di tengah pemandangan itu, para prajurit TNI terlihat melakukan peninjauan mendalam. Ratusan warga, sayangnya, masih harus bertahan di tempat pengungsian.

Menurut Kolonel Laut (P) Agung Saptoadi selaku Kabidpenum Puspen TNI, ada 477 jiwa yang masih mengungsi di dua titik di Kecamatan Pronojiwo.

"Sementara itu, aktivitas masyarakat di wilayah Candipuro dilaporkan sudah kembali normal," ujarnya pada Minggu (23/11/2025).

Di sisi lain, kabar duka masih menyelimuti. Tiga warga korban erupsi mengalami luka bakar akibat hantaman awan panas dan hingga kini masih menjalani perawatan intensif di RSUD Lumajang dan Pasuruan. Kondisi mereka terus dipantau.

Upaya penanganan di lapangan tak kenal lelah. Tim Aju Setiap Saat Siap Bergerak (S3B) dari Divisi Infanteri 2/Kostrad, bersama personel Koramil setempat, bergerak dari pagi hingga malam. Mereka menembus kondisi alam yang sulit ditebak untuk melakukan asesmen menyeluruh. Tujuannya jelas: memetakan mana zona yang sudah aman dan mana yang masih menyimpan bahaya.

Cuaca di lokasi dilaporkan mendung, menambah daftar kekhawatiran. Ancaman banjir lahar dingin disebut-sebut masih cukup tinggi, terutama dengan intensitas hujan yang makin meningkat.

"Secara umum, kondisi masyarakat terbilang kondusif," kata Agung, "namun ancaman banjir lahar dingin masih jadi perhatian utama kami."

Dari hasil peninjauan lapangan, kerusakan yang terjadi cukup parah. Tak kurang dari 22 rumah warga, satu bangunan sekolah, dan satu gardu listrik hancur. Lahan pertanian dan hewan ternak warga juga tak luput dari dampak yang signifikan. Personel TNI berupaya menjangkau area-area yang paling membutuhkan pertolongan secepatnya.

Untuk memperkuat respons, berbagai langkah darurat segera diambil. Sebuah tenda peleton dan dapur lapangan didirikan. Penyekatan di zona terdampak juga diperkuat. Evakuasi barang berharga dan warga berjalan secara terkoordinir, didukung penuh oleh personel Koramil yang sejak awal turun tangan melakukan penyisiran dan pengamanan.

Sebagai pusat kendali, Pos Komando didirikan tepat di depan Balai Desa Supiturang. Sementara itu, pos siaga juga ditempatkan di Dusun Gemuk Mas dan Dusun Sumbersari. Ini semua untuk memastikan tindakan cepat bisa dilakukan kapan saja.

Komitmen TNI di lapangan tampak jelas. Mereka bertekad memperkuat sinergi dan menjaga kesiapan operasi kemanusiaan.

"Kami akan terus berada di sini hingga situasi dinyatakan benar-benar aman. Ini adalah bentuk komitmen TNI untuk membantu pemerintah daerah dan, yang terpenting, melindungi rakyat dari ancaman bencana alam," pungkas Agung menegaskan.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar