"Secara umum, kondisi masyarakat terbilang kondusif," kata Agung, "namun ancaman banjir lahar dingin masih jadi perhatian utama kami."
Dari hasil peninjauan lapangan, kerusakan yang terjadi cukup parah. Tak kurang dari 22 rumah warga, satu bangunan sekolah, dan satu gardu listrik hancur. Lahan pertanian dan hewan ternak warga juga tak luput dari dampak yang signifikan. Personel TNI berupaya menjangkau area-area yang paling membutuhkan pertolongan secepatnya.
Untuk memperkuat respons, berbagai langkah darurat segera diambil. Sebuah tenda peleton dan dapur lapangan didirikan. Penyekatan di zona terdampak juga diperkuat. Evakuasi barang berharga dan warga berjalan secara terkoordinir, didukung penuh oleh personel Koramil yang sejak awal turun tangan melakukan penyisiran dan pengamanan.
Sebagai pusat kendali, Pos Komando didirikan tepat di depan Balai Desa Supiturang. Sementara itu, pos siaga juga ditempatkan di Dusun Gemuk Mas dan Dusun Sumbersari. Ini semua untuk memastikan tindakan cepat bisa dilakukan kapan saja.
Komitmen TNI di lapangan tampak jelas. Mereka bertekad memperkuat sinergi dan menjaga kesiapan operasi kemanusiaan.
"Kami akan terus berada di sini hingga situasi dinyatakan benar-benar aman. Ini adalah bentuk komitmen TNI untuk membantu pemerintah daerah dan, yang terpenting, melindungi rakyat dari ancaman bencana alam," pungkas Agung menegaskan.
Artikel Terkait
Utang Rp 300 Ribu Berujung Maut, Pria di Depok Ditusuk Saat Tidur
Indonesia Pimpin Dewan HAM PBB 2026, Tantangan Diplomasi Menanti
Muhammadiyah Bantah Terkait Laporan Polisi terhadap Pandji Pragiwaksono
KPK Tancapkan Taji, Mantan Menag Yaqut Tersangka Korupsi Kuota Haji