Buka puasa, bagi banyak orang, adalah momen pulang ke rumah. Saatnya berkumpul dengan keluarga di meja makan. Tapi coba tengok ke kereta komuter di Jakarta. Saat adzan Maghrib berkumandang, tak sedikit para komuter yang justru masih terjebak di tengah perjalanan. Mereka harus mencari cara untuk membatalkan puasa di sela-sela kerumunan dan gerbong yang berguncang.
Ina, seorang penumpang KRL berusia 22 tahun, mengalaminya hari itu. Dalam perjalanan dari Pondok Cina menuju Manggarai, ia mengaku ini pengalaman pertamanya berbuka di dalam gerbong.
"Aku baru pertama kali juga sih buka di kereta. Baru hari ini,"
ujar Ina, Rabu lalu. Suaranya hampir tenggelam oleh deru kereta.
Menu bukanya sederhana saja: ubi rebus dan es teh dalam botol. Pilihan yang menurutnya paling masuk akal. "Ya soalnya kan di transportasi umum nggak boleh makan sembarangan. Makannya harus cepat, praktis, nggak berantakan," jelasnya. Cukup beberapa gigitan, lalu disimpan lagi. Begitulah ritmenya.
Namun begitu, tidak semua orang memilih strategi seperti Ina. Bagi Silvi, yang juga 22 tahun dan sudah tiga tahun menjadi komuter rute Cikini-Kalideres, berbuka di stasiun adalah pilihan yang jauh lebih masuk akal. Ia sudah cukup sering melakukannya, biasanya di Manggarai atau Duri.
"Daripada buka di kereta cuma minum doang, mendingan duduk dulu. Lapar soalnya,"
kata Silvi sambil menyantap takjilnya dengan tenang. Ada perbedaan nuansa yang jelas antara ia yang duduk di bangku stasiun dan mereka yang terburu-buru di dalam kereta.
Hari itu, 'amunisi' Silvi terbilang lengkap. Ia tak cuma bawa bekal dari rumah seperti bihun dan lontong. Sebelum naik kereta, ia sempatkan berburu gorengan hangat dan satu porsi kebab di area stasiun. "Biar nggak lemas di jalan," tuturnya. Sebuah persiapan logistik kecil untuk menghadapi sisa perjalanan yang melelahkan.
Meski jauh dari orang tua dan suasana rumah, Silvi mengaku tetap bisa menikmati momen buka puasanya. Baginya, yang utama adalah energi tetap terisi. Agar kuat menghadapi kepadatan Jakarta dan akhirnya bisa sampai di rumah dengan selamat. Di sisi lain, pengalaman Ina dan Silvi ini cuma dua dari sekian banyak cerita para pejuang rupiah yang berpuasa. Mereka beradaptasi, menemukan caranya sendiri, di tengah hiruk-pikuk ibu kota yang tak pernah benar-benar berhenti.
Artikel Terkait
Trump Ancam Bombardir Oman Jika Berkolaborasi dengan Iran Jaga Selat Hormuz
Zelensky Desak Trump Kirim Rudal Patriot Tambahan di Tengah Eskalasi Serangan Rusia
Selebgram Woodyrman Aniaya WNA Brunei hingga Tewas di Blok M, Berawal dari Voice Note Tantangan Berkelahi
LBH dan Paguyuban Piaman Laporkan Abu Janda ke Bareskrim atas Pernyataan yang Dinilai Hina Masyarakat Sumbar