"Kita akan buat SOP bersama dengan Imigrasi dan pihak bandara. Tujuannya jelas: mencegah keberangkatan yang berisiko, misalnya yang cuma bawa tiket satu arah atau yang tujuannya kerja tapi tidak jelas," tambahnya.
Upaya pencegahan juga akan dilakukan di sisi Kamboja. Pemerintah akan mengadvokasi secara bilateral agar otoritas setempat menindak tegas perusahaan-perusahaan scam yang kerap menjebak pekerja. Penguatan hotline darurat, pemetaan lokasi rawan, dan sistem peringatan dini di KBRI juga akan ditingkatkan.
Lantas, bagaimana kabar Rizki sebenarnya? Awalnya, pemain sepak bola berusia 18 tahun ini diduga kuat menjadi korban perdagangan orang. Tapi, ternyata ceritanya agak berbeda. KBRI Phnom Penh sudah menyatakan bahwa remaja ini bukan korban TPPO.
Kabarnya, Rizki sendiri sudah mendatangi KBRI pagi tadi dalam keadaan sehat. Dia meminta bantuan untuk bisa segera pulang ke Indonesia setelah berhasil kabur dari tempat kerjanya yang ternyata merupakan sindikat penipuan.
Proses pencariannya sendiri ternyata cukup berliku. "KBRI pertama kali dapat laporan dari keluarga Rizki via hotline pada 10 November lalu," bunyi keterangan resmi KBRI. Sayangnya, informasi yang diterima sangat minim, sehingga menyulitkan tim untuk menelusuri keberadaannya. Komunikasi dengan keluarga terus dijalin, sampai akhirnya Rizki datang sendiri ke KBRI pagi ini.
Artikel Terkait
Sudinsos Jakarta Barat Buru Wanita yang Kerap Tak Bayar Makanan dan Ojol
Warga Belanda Hadapi Dakwaan Produksi Ganja Hidroponik di Denpasar
Polda Aceh Kawal Pembangunan Huntap dan Jembatan Pascabencana
Sidang Praperadilan Gus Yaqut Ditunda, KPK Absen dengan Alasan Tim Sibuk