Di sisi lain, rencana ini tidak berhenti sampai di sini. Fase kedua dan ketiga sudah menunggu. Dijadwalkan untuk berlangsung pada bulan Desember dan Januari mendatang, kampanye ini merupakan hasil kolaborasi antara WHO, UNICEF, UNRWA, serta kementerian kesehatan di Gaza yang dikelola oleh Hamas.
Tedros juga menyuarakan harapannya yang lain. Ia merasa terdorong untuk memastikan gencatan senjata ini terus berlanjut. Kenapa? Karena hanya dengan kondisi tenanglah, WHO dan para mitra bisa menggenjot layanan kesehatan penting di seluruh penjuru Gaza. Selain itu, upaya untuk mengisi ulang stok peralatan dan membenahi sistem kesehatan yang nyaris hancur juga bisa lebih intensif dilakukan.
Latar belakang dari gencatan senjata ini sendiri patut dicatat. Sebelumnya, Dewan Keamanan PBB pada hari Senin lalu memberikan dukungannya terhadap rencana yang difasilitasi oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Rencana inilah yang akhirnya memuluskan tercapainya kesepakatan gencatan senjata pada 10 Oktober antara Israel dan Hamas di Jalur Gaza. Sebuah perkembangan politik yang dampaknya langsung terasa bagi dunia kesehatan.
Artikel Terkait
Aturan Pajak Baru dan Polemik Penerima Beasiswa LPDP di Luar Negeri
Al Azhar Memorial Garden Raih Penghargaan Best Islamic Memorial Garden and Spiritual Services 2026
Ibas Tinjau Langsung Operasional Layanan Gizi Anak di Ngawi Saat Ramadan
Analisis: PDIP Dituding Coba Degradasi Pemerintahan Prabowo Lewat Polemik Anggaran MBG