Reaksi dan Kritik
Keputusan ini menuai reaksi keras dari berbagai pihak, terutama dari organisasi pro-Israel. Zionist Organization of America (ZOA) mengecam rencana penjualan tersebut dengan pernyataan keras bahwa transfer teknologi militer sensitif ini akan "secara substansial melemahkan keunggulan militer kualitatif Israel".
ZOA mengingatkan pemerintah AS tentang kewajiban hukum berdasarkan 22 US Code 2776(h) yang mewajibkan Washington mempertahankan kemampuan tempur superior Israel dalam menghadapi ancaman kawasan. Aturan ini menjadi dasar hukum yang kerap dijadikan pertimbangan dalam ekspor senjata AS ke Timur Tengah.
Analisis Strategis
Pakar hubungan internasional menilai langkah ini merepresentasikan pergeseran strategi luar negeri AS di Timur Tengah. Penjualan F-35 ke Riyadh tidak hanya memperkuat kemampuan pertahanan Saudi menghadapi ancaman regional, tetapi juga menandai peningkatan level kerja sama pertahanan AS-Saudi di tengah dinamika geopolitik yang berubah.
Kesepakatan ini diperkirakan akan memicu reevaluasi keseimbangan kekuatan militer di kawasan, sambil menguji ketahanan aliansi tradisional AS dengan Israel dalam menghadapi kepentingan strategis yang semakin kompleks.
Artikel Terkait
Jenazah Petani yang Hilang 40 Hari Ditemukan di Hutan Bukit Keciri
Kota Kertabumi Lanjutkan Fase Kedua, Jawab Permintaan Hunian Eksklusif di Koridor Whoosh
Misbakhun Ajak Anak Muda Tingkatkan Literasi Digital di Ramadan
Wamendagri Minta Gubernur Kaltim Kaji Ulang Anggaran Mobil Dinas Rp8,5 Miliar