MUI Apresiasi Gelar Pahlawan Nasional untuk Soeharto & Gus Dur: Upaya Rekonsiliasi Bangsa

- Selasa, 11 November 2025 | 16:25 WIB
MUI Apresiasi Gelar Pahlawan Nasional untuk Soeharto & Gus Dur: Upaya Rekonsiliasi Bangsa
MUI Apresiasi Gelar Pahlawan Nasional untuk Soeharto dan Gus Dur - Upaya Rekonsiliasi Bangsa

MUI Apresiasi Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional untuk Soeharto dan Gus Dur

Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (Wantim MUI), Zainut Tauhid Sa'adi, menyampaikan apresiasi dan ucapan selamat kepada pemerintah atas penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional kepada dua tokoh bangsa, yaitu HM Soeharto dan KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan Gus Dur.

Menurut Zainut, penganugerahan ini merupakan sebuah langkah yang strategis dan elegan dalam upaya rekonsiliasi sejarah bangsa. Langkah ini juga mencerminkan kedewasaan bangsa Indonesia dalam menghargai jasa dan kontribusi para pemimpin nasional dari berbagai era.

"Keputusan ini adalah sebuah penegasan bahwa setiap pemimpin memiliki peran dan jasa yang besar dalam rangkaian sejarah panjang Indonesia. Sudah sepatutnya kita mampu mengambil pelajaran dan hikmah dari kepemimpinan mereka untuk kemajuan bangsa di masa kini dan masa depan," jelas Zainut dalam pernyataannya di Jakarta, Senin (10/11/2025).

Zainut menambahkan bahwa momen penganugerahan gelar ini seharusnya menjadi kesempatan emas untuk memperkuat persatuan nasional. Hal ini juga dinilai dapat menumbuhkan semangat kebangsaan di tengah-tengah beragamnya pandangan masyarakat terhadap sejarah Indonesia.

Sebagai mantan Wakil Menteri Agama, Zainut mengajak seluruh umat Islam dan rakyat Indonesia untuk dapat mengambil tiga pesan moral utama dari peristiwa penting ini. Pertama, pentingnya bersikap objektif dan adil dalam menilai sejarah. Kedua, meneladani semangat perjuangan yang ditunjukkan oleh kedua tokoh. Ketiga, mengamalkan nilai-nilai persatuan dan toleransi dalam kehidupan sehari-hari.

Dari sosok HM Soeharto, masyarakat dapat meneladani semangat perjuangan dan dedikasinya yang tinggi terhadap kedaulatan negara. Perannya dalam menjaga stabilitas keamanan nasional serta meningkatkan kesejahteraan rakyat melalui berbagai program pembangunan yang berkelanjutan patut dijadikan pelajaran.

Sementara dari sosok Gus Dur, masyarakat dapat belajar dan meneladani nilai-nilai kemanusiaan, inklusivitas, serta toleransi yang sangat luas. Gus Dur telah mengajarkan melalui pemikiran dan tindakannya bahwa kebaikan dan keadilan tidak seharusnya mengenal batas agama, suku, maupun golongan.

"Penganugerahan gelar kepada dua tokoh dengan latar belakang dan corak kepemimpinan yang sangat berbeda, yakni dari sisi militer dan pembangunan serta dari sisi ulama dan demokrasi, merupakan bukti nyata bahwa bangsa Indonesia mampu bersatu dalam keberagaman," tegas Zainut.

Majelis Ulama Indonesia juga menekankan kembali pentingnya penerapan prinsip tasamuh (toleransi), tafahum (saling memahami), dan ta'awun (saling menolong) dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Prinsip-prinsip ini dianggap sangat krusial, terutama di tengah perbedaan pandangan politik atau ideologi yang mungkin berasal dari masa lalu.

"MUI mengajak seluruh elemen dan komponen bangsa untuk menjunjung tinggi kebesaran jiwa yang dicontohkan oleh kedua pahlawan nasional ini. Mari kita akhiri segala bentuk polarisasi yang tidak produktif dan bersatu padu membangun Indonesia yang lebih adil, makmur, dan beradab," pungkas Zainut.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar