Luka Sejarah Orde Baru yang Masih Terbuka
Kritik ini muncul dalam konteks memori kolektif bangsa yang masih menyimpan luka dari era Orde Baru. Berbagai peristiwa seperti penculikan aktivis 1997-1998, dugaan pelanggaran HAM, serta praktik KKN masih menjadi catatan sejarah yang belum tuntas. Bagi banyak korban dan keluarga, pemberian gelar ini terasa seperti penguburan paksa sejarah sebelum keadilan benar-benar ditegakkan.
Nostalgia Semu dan Penyusutan Akal Sehat Demokrasi
Fenomena lain yang turut disoroti adalah munculnya nostalgia semu terhadap Orde Baru di kalangan generasi muda, yang seringkali hanya melihatnya sebagai era stabilitas. Rocky Gerung menyebut kondisi ini sebagai gejala "penyusutan akal sehat demokrasi", di mana kebenaran statistik dianggap lebih penting daripada fakta sejarah yang kompleks.
Ia menambahkan, ketika gelar pahlawan disandarkan pada hasil survei, maka terjadi simplifikasi sejarah. Sejarah yang seharusnya menjadi ruang refleksi berubah menjadi komoditas pasar opini. Pada titik ini, gelar kepahlawanan kehilangan makna sejatinya dan berubah menjadi sekadar kompromi politik.
Pada intinya, perdebatan tentang Soeharto bukan hanya tentang setuju atau tidak setuju. Ini adalah ujian bagi bangsa Indonesia dalam menuliskan ingatan kolektifnya: apakah memilih untuk berani jujur pada masa lalu atau menutup mata dan tunduk pada angka-angka survei.
Artikel Terkait
Proyek Perbaikan Jalan Aroepala Makassar Picu Kemacetan, Diklaim Bukan Sekadar Tambal Sulam
Harga Emas Antam Anjlok Rp50.000 per Gram pada Perdagangan Kamis
Jadwal Musda Golkar Sulsel Tunggu Kepastian dari Pusat
Karcis Parkir Tak Sesuai Picu Pengeroyokan Juru Parkir di Makassar