Kepadatan KRL Tanah Abang: Kisah Harian Penumpang dan Pedagang
Stasiun Tanah Abang tetap ramai meski malam telah tiba. Antrian penumpang masih terlihat memadati peron menuju Rangkasbitung, menciptakan pemandangan sesak khas ibukota. Suasana ini menggambarkan betapa sibuknya transportasi kereta di Jakarta, terutama bagi para pekerja dan pedagang.
Rutinitas Harian Karyawan Kantoran
Ari (22), karyawan kantoran yang tinggal di Maja, mengandalkan KRL untuk pergi ke Rasuna Said setiap hari. "Kalau dari daerah rumah itu satu-satunya transportasi ya KRL," ujarnya. Perjalanannya dimulai dari Maja ke Tanah Abang, kemudian transit ke Sudirman. Menurut Ari, jam sibuk pagi hari antara pukul 6 hingga 8 adalah waktu tersibuk. "Mungkin sampai kejepit atau terdorong-dorong di dalam gerbong," tambahnya. Meski begitu, ia mengaku sudah terbiasa dengan kondisi tersebut.
Pengalaman Berbeda Saat Pulang Kerja
Ari menceritakan bahwa kepadatan KRL saat pulang kerja lebih ringan dibanding berangkat. "Kalau pulang agak sedikit senggang. Biasanya jam tujuh malam baru balik," katanya. Hal ini menunjukkan pola penggunaan KRL yang berbeda antara jam berangkat dan pulang kerja.
Kisah Pedagang di Atas KRL
Harwadi (50), pedagang tape uli, lepet, dan asinan di Kelapa Gading, juga bergantung pada KRL untuk aktivitasnya. Setiap hari ia berangkat dari Sudimara ke Kemayoran dengan transit di Tanah Abang. "Padatnya setiap Senin sampai Jumat lah. Macet di dalam keretanya," ujarnya. Sebagai pedagang yang membawa dagangan, Harwadi harus pintar memilih waktu naik KRL. "Biasa nunggu yang longgar dulu. Selalu berdiri naik keretanya. Jarang duduk, kecuali Sabtu-Minggu," jelasnya.
Perbedaan Kondisi Akhir Pekan
Baik Ari maupun Harwadi sepakat bahwa kondisi KRL di akhir pekan lebih nyaman. "Lebih mending, longgar," kata Harwadi. Ia juga menambahkan bahwa kepadatan di rute Bekasi hampir sama dengan Tanah Abang. Informasi ini penting bagi penumpang yang merencanakan perjalanan di akhir pekan.
Kisah sehari-hari pengguna KRL Tanah Abang ini menunjukkan betapa transportasi umum menjadi tulang punggung mobilitas warga Jakarta dan sekitarnya. Baik untuk bekerja maupun berdagang, KRL tetap menjadi pilihan utama meski dengan segala keterbatasan dan kepadatannya.
Artikel Terkait
Polda Kalbar Musnahkan 12 Kilogram Sabu Hasil Pengungkapan Jaringan Narkoba
Mahfud MD Apresiasi Prabowo Undang Tokoh Kritis untuk Jembatani Kesenjangan Informasi
PBNU Tetapkan Jadwal Munas, Konbes, dan Muktamar ke-35 pada 2026
Rem Blong Truk Pasir Picu Tabrakan Beruntun di Exit Tol Cilegon Timur