MURIANETWORK.COM - Nilai tukar rupiah tercatat melemah pada penutupan perdagangan Kamis (5/2/2026), menyentuh level Rp16.842 per dolar AS. Pelemahan sebesar 65 poin atau 0,39 persen ini terjadi di tengah sentimen global yang bergejolak, terutama terkait ketegangan geopolitik di Timur Tengah, meski diimbangi dengan data pertumbuhan ekonomi domestik yang cukup solid sepanjang tahun 2025.
Sentimen Global Tekan Nilai Tukar
Pelemahan rupiah hari ini tidak terlepas dari ketegangan di pasar keuangan global. Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menyoroti laporan media yang sempat mengabarkan potensi kegagalan pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran yang dijadwalkan Jumat. Kabar ini sempat memicu kehati-hatian investor terhadap aset berisiko.
“Namun, kemudian pada hari itu, para pejabat dari kedua pihak mengatakan bahwa pembicaraan akan tetap berlangsung pada hari Jumat meskipun topik yang akan dibahas belum disepakati,” tulisnya dalam riset yang diterbitkan Kamis.
Assuaibi menjelaskan, perbedaan pendapat yang masih lebar antara kedua negara menjadi sumber ketidakpastian. Iran disebut terbuka membahas program nuklirnya, sementara AS ingin memasukkan isu rudal balistik, dukungan terhadap kelompok bersenjata, dan situasi hak asasi manusia ke dalam agenda. Ketegangan ini, ditambah dengan ancaman militer yang masih mengambang, menimbulkan kekhawatiran akan stabilitas di kawasan penghasil minyak tersebut.
Dinamika Kebijakan The Fed dan Hubungan AS-China
Di sisi lain, pasar juga terus mencermati perkembangan kebijakan moneter The Federal Reserve. Pengangkatan figur yang dianggap hawkish, Kevin Warsh, ke dalam kepemimpinan Fed telah mengubah ekspektasi pasar. Trader mulai menurunkan harapan untuk penurunan suku bunga, dengan alat CME FedWatch menunjukkan probabilitas turunnya suku bunga pada pertemuan Juni berada di sekitar 46 persen.
Artikel Terkait
CP Prima Catat Laba Bersih Rp424 Miliar, Naik 32% pada 2025
Laba Bersih INKP dan TKIM Berjalan Berbeda Meski Penjualan Sama-Sama Turun Tipis
Kementerian Pertanian Siapkan Rp9,5 Triliun untuk Hilirisasi 7 Komoditas Andalan
Harga CPO Menguat Pekan Ketiga, Didukung Konflik Timur Tengah dan Harga Energi