Harga Singkong Anjlok, Mentan Zulhas Sarankan Petani Gunungkidul Beralih Komoditas
Petani asal Purwosari, Gunungkidul, Eriyanto, menyampaikan keluhan tentang anjloknya harga singkong kepada Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan. Keluhan ini disampaikan secara langsung saat Zulhas berkunjung ke Masjid Nurul Ashri di Sleman pada Minggu (2/11).
Keluhan Petani Singkong Gunungkidul
Eriyanto mengungkapkan, harga singkong mentah saat ini sangat murah, hanya berkisar Rp500 per kilogram. Situasi ini semakin sulit karena produk olahan singkong seperti gaplek mudah berjamur di musim hujan, sehingga nilai jualnya pun rendah.
"Tahun kemarin singkong mentah hanya Rp500 per kilo di pasaran, dan itu pun hanya sedikit pembeli. Kalau dijadikan gaplek, kendalanya di musim hujan mudah berjamur, akhirnya harganya hanya Rp1.000 sampai Rp1.200 per kilo," ujar Eriyanto.
Tanggapan dan Saran Mentan Zulhas untuk Petani
Menanggapi hal ini, Zulhas menyarankan agar petani tidak menanam singkong jika tidak ada industri pengolahan yang siap menampung hasil panen. Ia menilai harga jual di tingkat petani saat ini terlalu rendah dan tidak menguntungkan.
"Jangan tanam singkong, miskin sudah. Harus ganti komoditas, karena singkong harus ada pabrik pengolahnya. Harga Rp500 per kilo pasti membuat petani bangkrut. Harga singkong yang paling murah seharusnya Rp1.200-Rp1.300 per kilo, dan itu pun belum untung banyak," tegas Zulhas.
Ia menekankan bahwa tanpa dukungan industri tapioka atau pabrik pengolahan, petani singkong akan terus merugi karena pasar untuk komoditas ini sangat terbatas.
Alternatif Komoditas Pengganti Singkong
Zulhas menambahkan, petani sebaiknya beralih ke komoditas lain yang lebih menjanjikan. "Kalau tidak ada industri tapioka, lebih baik menanam jagung karena pemerintah pasti membelinya," sarannya.
Harapan Petani untuk Masa Depan
Setelah forum tersebut, Eriyanto mengakui bahwa mengganti komoditas pertanian bukanlah hal yang mudah, terutama karena ia harus menyesuaikan dengan musim penghujan. Ia berharap pemerintah dapat memberikan pendampingan dalam tata kelola pertanian agar petani bisa lebih adaptif.
"Harapannya, untuk beralih ke tanaman lain, harus ada pendidikan pertanian bagi petani di Gunungkidul agar petani kita bisa lebih modern," kata Eriyanto. "Masalah utamanya adalah pengairan, karena tanaman di sini hanya mengandalkan air hujan," pungkasnya.
Artikel Terkait
Polda Kalbar Musnahkan 12 Kilogram Sabu Hasil Pengungkapan Jaringan Narkoba
Mahfud MD Apresiasi Prabowo Undang Tokoh Kritis untuk Jembatani Kesenjangan Informasi
PBNU Tetapkan Jadwal Munas, Konbes, dan Muktamar ke-35 pada 2026
Rem Blong Truk Pasir Picu Tabrakan Beruntun di Exit Tol Cilegon Timur