MURIANETWORK.COM - Persis Solo kembali mengalami pukulan telak di luar lapangan. Striker asing baru mereka, Clayton da Silveira da Silva, secara resmi dinyatakan tidak memenuhi syarat untuk bermain di BRI Super League 2025/2026 oleh PSSI. Larangan ini muncul hanya empat hari setelah sang pemain asal Brasil itu diperkenalkan secara resmi kepada publik, menambah daftar panjang masalah administratif yang menghantui Laskar Sambernyawa dalam bursa transfer musim ini.
Gagal Administrasi, Kontrak Diputus
Kabar buruk itu datang melalui surat resmi PSSI yang diterima manajemen Persis. Clayton Silva, yang baru tiba dengan harapan tinggi, ternyata terganjal aturan ketat terkait liga asal pemain. Pemain berusia 30 tahun itu terakhir membela Diamond Harbour FC, sebuah klub yang berkompetisi di kasta kedua Liga India (I-League).
Regulasi PSSI dengan tegas hanya mengizinkan pemain dari kasta tertinggi India, yaitu Indian Super League, untuk direkrut. Meski Persis berargumen bahwa Clayton lebih aktif di Perak FC (Malaysia) mengingat kompetisi India sedang vakim, lobi tersebut tidak berhasil mengubah keputusan.
Dalam pernyataan resminya, klub akhirnya mengakui kegagalan ini.
“Pemain dengan nama lengkap Clayton da Silveira da Silva tidak akan melanjutkan karier bersama tim,” jelas pernyataan klub yang dirilis Rabu (4/2/2026) malam, seraya mengonfirmasi bahwa keputusan diambil menyusul surat pemberitahuan dari PSSI.
Rentetan Masalah Perekrutan
Kasus Clayton ini bukan yang pertama. Sejak awal musim, departemen kepemilikan pemain Persis seolah terus dirudung masalah. Di awal kompetisi, mereka baru menyadari Fuad Sule membawa sanksi larangan bertanding global dari FIFA, yang memaksa pemain itu absen dalam sembilan pertandingan awal.
Upaya mencari pengganti pun berujung sia-sia. Mateo Kocijan, yang sempat dikabarkan akan bergabung, ternyata tidak pernah muncul di Solo dan malah dilaporkan bergabung dengan klub di Kroasia. Dengan kegagalan Clayton, lengkaplah sudah tiga kali Persis mengalami kendala serius dalam mendatangkan pemain asing.
Dampak dan Upaya Penyelamatan
Rentetan insiden ini tentu membawa konsekuensi nyata. Secara finansial, anggaran untuk kontrak, bonus penandatanganan, dan fasilitas pemain terbuang percuma. Di lapangan, pelatih harus berjuang dengan skuat yang tidak lengkap, sementara citra klub di mata agen dan pemain internasional berpotensi ternoda.
Sebagai langkah penyelamatan, manajemen dikabarkan berusaha mencari solusi agar Clayton tetap bisa bermain. Rencananya, pemain asal Brasil itu akan dipinjamkan ke klub kasta kedua, Garudayaksa FC, untuk menjaga kebugarannya sebelum diproyeksikan kembali pada musim depan, jika regulasi memungkinkan.
Evaluasi Mendalam Diperlukan
Terulangnya kasus administratif yang sebenarnya bisa dicegah ini menyoroti titik lemah dalam proses verifikasi. Sistem seperti FIFA TMS (Transfer Matching System) seharusnya dapat mendeteksi masalah strata liga atau sanksi global lebih dini, sebelum pemain sampai di bandara.
Insiden beruntun ini menunjukkan bahwa klub membutuhkan pengawasan dan keahlian teknis yang lebih ketat. Kehadiran figur yang benar-benar menguasai regulasi terkini PSSI dan FIFA di struktur kepelatihan tampaknya menjadi kebutuhan mendesak. Tujuannya jelas: memastikan setiap pemain yang didatangkan telah lolos semua pemeriksaan administratif dan hukum, sehingga fokus bisa sepenuhnya diberikan kepada kontribusi di lapangan hijau.
Artikel Terkait
Persis Solo Gagal Daftarkan Striker Brasil Clayton Akibat Aturan Strata Liga India
Manchester United dan Liverpool Berebut Adam Wharton dengan Harga £80 Juta
Portugal Berencana Pilih Miami Sebagai Markas Piala Dunia 2026, Dekat Basis Messi
Persis Solo Lepas Dua Pilar Asing, Datangkan Sembilan Pemain Baru untuk Putaran Kedua