MURIANETWORK.COM - Persis Solo kembali mengalami pukulan telak di luar lapangan. Striker asal Brasil, Clayton da Silveira da Silva, yang baru saja diresmikan, secara resmi dilarang bermain di BRI Super League 2025/2026 oleh PSSI karena tidak memenuhi syarat administratif terkait strata liga klub lamanya di India. Keputusan ini menjadi kegagalan ketiga manajemen klub dalam proses rekrutmen pemain asing pada musim ini, memunculkan pertanyaan serius tentang ketelitian prosedur yang diterapkan.
Gagal Administrasi, Kontrak Diputus
Euforia perkenalan pemain berusia 30 tahun itu pada Sabtu, 31 Januari 2026, sirna hanya dalam hitungan hari. PSSI mengeluarkan surat penolakan registrasi yang menyatakan Clayton tidak memenuhi syarat. Akar masalahnya terletak pada regulasi PSSI yang ketat mengenai liga asal pemain dari India. Clayton terakhir membela Diamond Harbour FC, yang berkompetisi di I-League (kasta kedua), sementara aturan hanya mengizinkan pemain dari kasta tertinggi, Indian Super League.
Manajemen Persis sempat berupaya melakukan lobi. Mereka mengajukan argumen bahwa Clayton lebih aktif di Perak FC (Malaysia) mengingat kompetisi India sedang vakum. Namun, upaya itu tidak cukup untuk membengkokkan aturan yang berlaku.
Dalam pernyataan resminya, klub akhirnya mengakui kegagalan tersebut. "Pemain dengan nama lengkap Clayton da Silveira da Silva tidak akan melanjutkan karier bersama tim," bunyi rilis klub pada Rabu (4/2/2026) malam. Keputusan itu diambil menyusul surat resmi PSSI bernomor 447/UDN/275/II-2026 yang secara tegas menyatakan sang striker tidak memenuhi syarat untuk tampil.
Rentetan Masalah Perekrutan
Nasib Clayton seolah melengkapi trilogi kesialan Persis Solo di bursa transfer musim ini. Sebelumnya, klub sudah dua kali mengalami insiden serupa yang merugikan secara materi dan taktis.
Di awal musim, mereka kecolongan dengan status Fuad Sule. Pemain asing itu ternyata membawa sanksi larangan bertanding global dari FIFA, yang baru diketahui setelah ia sempat dimainkan. Akibatnya, Sule harus menjalani hukuman absen selama sembilan pertandingan awal.
Upaya menambal kekosongan dengan mendatangkan Mateo Kocijan juga berakhir sia-sia. Meski kesepakatan diklaim telah terjalin, pemain asal Kroasia itu tak kunjung muncul di Solo. Alih-alih, kabar justru menyebutkan ia bergabung dengan klub di tanah airnya, NK Tehnicar 1974.
Dengan kasus Clayton yang sudah tiba dan diumumkan namun gagal berseragam, manajemen Persis seolah menutup rangkaian masalah dengan catatan yang sama: kegagalan verifikasi mendasar. Untuk menyelamatkan situasi, rencananya Clayton akan dipinjamkan ke Garudayaksa FC di kasta kedua, dengan harapan bisa kembali pada musim depan.
Evaluasi Mendalam Diperlukan
Terulangnya insiden administratif ini, dari sanksi FIFA hingga strata liga, menunjukkan adanya celah sistemik dalam proses due diligence klub. Padahal, sistem seperti Transfer Matching System (TMS) seharusnya dapat mendeteksi masalah-masalah semacam ini jauh sebelum kontrak ditandatangani.
Dampaknya berlapis. Secara finansial, anggaran untuk kontrak, bonus penandatanganan, dan fasilitas pemain terbuang percuma. Di lapangan, pelatih seperti Peter de Roo atau penerusnya dipaksa bekerja dengan komposisi skuat yang tidak optimal akibat ketiadaan pemain yang sudah direncanakan.
Lebih dari itu, reputasi klub di mata pasar transfer internasional berisiko ternoda. Agen pemain dan pemain asing berkualitas mungkin akan berpikir dua kali sebelum berurusan dengan klub yang catatan administrasinya dianggap rapuh. Untuk maju, Persis Solo jelas membutuhkan penataan ulang di sektor teknis, dengan sosok yang memiliki pemahaman mendalam dan update terhadap regulasi FIFA dan PSSI, guna memastikan setiap rekrutan benar-benar siap pakai, baik secara administratif maupun hukum.
Artikel Terkait
Persebaya Targetkan Ramadhan Sananta untuk Musim Depan
Iran Bangkit dari Ketertinggalan, Lolos ke Final Piala Asia Futsal 2026
Persib Bandung Resmi Datangkan Striker Spanyol Sergio Castel
Persis Solo Gagal Daftarkan Striker Brasil Clayton Silva Akibat Gagal Administrasi PSSI