MURIANETWORK.COM - Seorang wanita berusia 43 tahun, Enok, ditemukan meninggal dunia di Sungai Citarum, Kabupaten Bandung Barat, Kamis (5/2/2026). Korban sebelumnya dilaporkan hilang setelah lantai rumahnya yang berada di tepi sungai tiba-tiba runtuh dan diduga membuatnya terbawa arus. Pencarian yang melibatkan tim gabungan akhirnya berhasil menemukan jenazahnya di lokasi yang berjarak cukup jauh dari tempat kejadian.
Korban Ditemukan dalam Kondisi Meninggal
Proses pencarian yang menegangkan berakhir dengan temuan yang menyedihkan. Jenazah Enok ditemukan mengapung di aliran Sungai Citarum, tepatnya di sekitar Jembatan BBS, pada pukul 09.50 WIB pagi itu. Lokasi penemuan ini cukup jauh dari Desa Cilame, Kutawaringin, tempat ia pertama kali hilang.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bandung, Wahyudin, mengonfirmasi kabar duka tersebut. "Iya benar (ditemukan) sekitar pukul 09.50 WIB dalam kondisi meninggal dunia," jelasnya.
Wahyudin menambahkan detail lokasi penemuan yang menunjukkan kuatnya arus sungai. "Ditemukannya cukup jauh, posisinya dari Cilame Kutawaringin, ketemunya di Jembatan BBS arah Cihampelas," ungkapnya.
Proses Identifikasi oleh Keluarga
Setelah dievakuasi, proses identifikasi segera dilakukan. Tim Inafis Polresta Bandung turun langsung untuk memastikan identitas korban, didampingi oleh anggota keluarga terdekat. Meskipun kondisi fisik jenazah telah mengalami perubahan akibat terendam air, keluarga tetap dapat mengenalinya.
"Sepupunya sudah datang untuk memastikan identitas jenazah yang berjenis kelamin perempuan. Meskipun kondisi fisik jenazah sudah berubah, keluarganya membenarkan identitas tersebut dan jenazah langsung dibawa ke rumah korban di Cilame," terang Wahyudin lebih lanjut.
Kronologi Awal Musibah
Insial bermula ketika Enok hendak menuju kamar mandi di rumahnya. Saat itulah, lantai rumah yang terletak persis di bibir Sungai Cijagra tiba-tiba ambruk. Diduga kuat, korban langsung terjatuh dan terseret arus sungai yang deras pada saat kejadian. Lokasi rumah di daerah rawan seperti ini sering kali menghadapi risiko erosi dan ketidakstabilan tanah, sebuah faktor yang kerap menjadi perhatian dalam kajian mitigasi bencana di kawasan aliran sungai.
Peristiwa ini menyisakan duka mendalam bagi keluarga dan warga sekitar. Pihak berwenang telah menangani proses lebih lanjut, sementara komunitas setempat berduka atas musibah yang menimpa salah satu warganya.
Artikel Terkait
Korea Utara Tegaskan Tak Akan Pernah Terikat Perjanjian Pelucutan Senjata Nuklir
Presiden Prabowo Disambut Maung MV3 Buatan Pindad di KTT ASEAN Filipina
Hakim Perintahkan Anak Terdakwa Korupsi Noel Keluar Sidang Demi Jaga Psikologis
Mantan Kasat Narkoba Polres Bima Diperiksa Bareskrim Terkait Dugaan Pencucian Uang Jaringan Bandar Koh Erwin